Thursday, December 25, 2014

Tentang Resolusi Tahun Baru

Pertanyaan: Apa resolusi Anda di tahun 2015?
Jawaban: Menjaga kesehatan.

I am still young, but health must not be taken for granted. I realize that everybody's getting old and if I am not careful, I might end up old and unhealthy. So i decided that 2015 should be a healthier year for me *let's try*.

Yang paling mudah dilihat dulu saja ya, menjaga kesehatan jasmani. Aih, seperti pelajaran zaman SD saja ya. Selama ini saya tidak punya waktu *niat* olahraga. Ya, bersembunyi di balik alasan ini dan itu, sebenarnya niat saya saja yang rendah. Padahal di tempat kos saya itu sudah ada fasilitas gym *walaupun minimalis* dan kelas aerobik *dan sejenisnya* lho. Tapi dengan hebatnya saya selalu punya alasan untuk tidak melangkahkan kaki ke sana, padahal mungkin tidak lebih dari 10 langkah *luar biasa*. 2015, marilah mengolah tubuh setidaknya sekali dalam seminggu.

Yang kedua, kesehatan materi. Oh, ini sedikit agak lebih sulit namun masih dapat terlihat. Mungkin tidak oleh orang lain, namun setidaknya saya akan sadar ketika menatap saldo di buku tabungan dan tagihan kartu kredit *alamak*. Oke, saya akui selama ini saya bukanlah pengelola keuangan yang baik. Terlalu banyak hura-hura hingga berujung pada minimnya saldo tabungan. 

2015, saya harus lebih bijak dalam memisahkan pengeluaran masa kini dan jaminan untuk masa depan. The best way to do that for me, membuat tabungan berjangka, atau apapun namanya yang penting uang saya dikunci oleh pihak ketiga. 

Selanjutnya, agar kesehatan itu semakin sempurna dan berarti, harus dilengkapi dengan memastikan kesehatan rohani. Merancangkan masa depan di dunia untuk bisa dinikmati dengan tubuh dan keuangan yang sehat memang baik. Tetapi siapa sih yang tahu sampai kapan saya masih ada di dunia ini? Kalau besok mati bagaimana?

Nah, saya adalah orang yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Walaupun saya tahu selama ini saya tidak memberi perhatian yang cukup untuk kehidupan rohani saya, too many ups and downs. Dengan bertambahnya usia dan berkurangnya jatah umur di dunia, rasanya 2015 harus diresolusikan untuk menjadi tahun persiapan memasuki kehidupan itu. Bagaimana caranya? Check the Bible.

Terakhir, menjaga kesehatan hubungan dengan orang-orang sekitar. Jangan buang-buang waktu untuk mereka yang tidak punya waktu untuk Anda. Jangan terlalu memikirkan perkataan orang tentang Anda karena apapun yang Anda lakukan, banyak yang berambisi membuat Anda tenar dengan membicarakan Anda. Jangan menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk menjadi salah satu orang yang suka membuat orang lain tenar dengan membicarakan *hal-hal buruk* tentang mereka. 

My point is, surround yourself with positive people or people that really matter for you. And don't take them for granted for you may not know when they will be gone.

Hmmpphhh..sekian saja resolusi saya. Hanya ada 4 poin dan intinya sederhana untuk menuju ke arah kehidupan yang lebih sehat. Aplikasinya? Doakan saja ya.

Selamat menyambut tahun baru 2015!

Saturday, December 20, 2014

Tentang Tato

Pertanyaan: Apa yang Anda pikirkan tentang mereka yang bertato?
Jawaban: Kenapa saya harus mikirin mereka? Kenal aja enggak.

Anyway, saya tidak punya penilaian khusus tentang orang-orang yang bertato. Hmmpphh..kecuali mungkin mereka memiliki tato di seluruh wajahnya dan jadi mirip sosok kanibal yang di film-film, seram sih kalau itu. 

Saya tidak anti terhadap orang bertato, walaupun ada pendapat-pendapat di luaran yang mengaitkan tato dan residivis. Mungkin itu cocok di tahun 60-an kali ya. Tidak tahu juga sih seperti apa tahun 60-an, sebenarnya saya cuma mau menekankan bahwa pendapat itu sudah tidak cocok di zaman sekarang. 

Tapi juga bukan berarti saya mendukung orang-orang untuk punya tato. Saya belum termasuk juga kelompok orang yang mengamini bahwa tato adalah bagian dari seni. Ah, pengetahuan dan apresiasi saya tentang seni memang minim sih. 

Kalau ditanya apakah saya punya keinginan untuk bikin tato permanen? Oh, tentu tidak! Alasan utamanya, saya ini lemah dalam komitmen. Lho, apa hubungannya? Jadi begini, tato itu kan melekat seumur hidup di tubuh saya, walaupun memang katanya sudah ada teknologi untuk menghilangkannya, sedangkan saya ini orangnya bosanan. Kalau 2-3 tahun kemudian saya bosan lihat gambar itu di tubuh saya gimana? Waduh, mesti mengumpulkan uang buat menghilangkannya, yang konon katanya lagi biayanya cukup mahal.

Alasan sampingannya, saya takut! Haha,,,mungkin kedengarannya menggelikan ya. Tetapi saya belum dengar cerita orang bikin tato yang rasanya seperti makan KFC. Apa maksudnya? Ya kalau makan KFC kan enak, kalau bikin tato dengar-dengar dari yang sudah berpengalaman ada sensasi rasa sakitnya. Ya oloh, sama jarum suntik aja kalau bisa saya tidak mau berurusan.

Dan ada lagi alasan-alasan lain, seperti: saya tidak kepikiran mau tato apa, mau ditaruh di mana, nanti kalau saya jadi makin gendut dan tatonya ikutan melebar berbentuk tidak jelas gimana, etc etc. Ah, sudahlah, intinya saya memang tidak ingin koq.

Walaupun begitu, kalau Anda memang berminat silakan lho. Asalkan Anda memang sudah yakin, mantap, dan sepenuh hati. Jangan alasannya cuma karena ikut-ikutan teman atau biar keren saja. Memangnya Anda yakin setelah ditato bakal jadi keren? Kalau muka tidak mendukung ya sama sajalah. Eh, maaf hanya becanda, tolong jangan dimasukkan ke hati ya.

Pesan saya sih, kalau memang mau buat tato, tunggulah sampai Anda dewasa, sampai Anda yakin, dan keputusan itu Anda buat bukan di masa-masa labil remaja *memang remaja doank ya yang labil?*. Dewasa itu kriterianya apa? Ya, susah sih memang, ada juga yang masih 15 tahun tapi pemikirannya sudah dewasa. Ada yang sudah 2x perpanjang KTP tapi kelakuan masih seperti anak SMP.

Intinya kalau buat saya sih, kalau mau buat tato jangan minta uang mama papa ya *sama halnya kalau mau beli rokok atau miras atau narkoba atau clubbing*. Kalau masih minta, tanya dulu ke mereka boleh apa enggak. Itu kan uang mereka. Kalau Anda sudah bisa cari uang sendiri dan mengerti nilai uang itu, mau dihabiskan untuk apa terserah Anda sih, asal jangan sampai masuk penjara ya. 

Selamat membuat tato *atau tidak*!


Friday, October 3, 2014

Tentang Pekerjaan Pertama

Pertanyaan: Apa yang Anda ingat tentang pekerjaan pertama Anda?
Jawaban: Hmmpphh...gajinya?

Banyak yang pertama kali dilakukan menjadi hal yang meninggalkan kesan yang mendalam. Entah kenapa beberapa hari ini saya menjadi sedikit terkenang dengan pekerjaan pertama saya. Bukannya saya tidak puas dengan pekerjaan saat ini, bukan juga saya ingin kembali pada pekerjaan pertama itu, tetapi ada rasa sedikit kangen mungkin. Kebetulan beberapa waktu belakangan ini saya sedang sibuk mengikuti kisah perjalanan teman saya yang hendak masuk ke tempat di mana saya bekerja pertama kali itu. Jadi ada sedikit dorongan untuk bernostalgia.

Pekerjaan pertama didapat beberapa bulan setelah lulus kuliah, mulai desperado karena nggak ada yang menerima di sana sini, mulai berpikir jangan-jangan saya akan jadi pengangguran selamanya. Eh, tiba-tiba kantor A ini merespons lamaran saya dengan cepat. Ya, sepertinya sih untuk industri ini memang sudah dikenal cepat memberi respons karena turnover pegawai mereka pun cukup tinggi. Singkat cerita, saya diterima untuk mengikuti pendidikan ini itu selama beberapa bulan, ikatan dinas satu tahun, gaji apa adanya Rp 3,5 juta (tapi lebih baik daripada tidak berpenghasilan), dan masuklah saya ke industri yang sebenarnya tidak saya pahami sama sekali itu.

Apakah saya menyesal? Kalau dipikir-pikir lagi sih ada ya dan tidaknya. Ya karena sejujurnya di lubuk hati terdalam i feel like i dont belong in this industry; well, i can do it and i will do it to the best that i can, but deep down i know i should try another thing; but i don't have that much courage yet or ever, i don't know.

But, ada juga hal-hal yang bikin saya tidak menyesal dengan pekerjaan pertama saya ini, seperti:

Kesempatan untuk menemukan teman-teman yang konyol dan mengajarkan hal-hal penting dalam hidup saya. Kebetulan kita semua rata-rata seumuran dan konflik yang dihadapi ya begitulah, dan hal-hal yang kita anggap penting dan tidak penting masih cukup serupa, sehingga saya merasa cocoklah. 

Punya bos yang rasanya kayak bukan bos tapi ya bos juga sih. Gimana ya, saya cukup bersyukur sih pertama kali kerja dan agak deg-degan bagaimana cara masuk ke dunia itu, eh dipertemukan dengan bos yang bukan sekedar tukang perintah tidak jelas tetapi juga mengajarkan dan membantu dalam pekerjaan. Bukan bos yang sekedar menyelamatkan diri sendiri dengan menginjak anak buahnya. I would say she is great! Ditambah lagi bos saya ini juga mampu menempatkan diri untuk ikutan kongkow-kongkow tanpa menciptakan suasana aneh, if you know what i mean.

Bertemu klien-klien yang variatif. Saya sih tidak suka-suka amat untuk bertemu dan ber-haha hihi dengan orang-orang baru, apalagi kalau orang barunya menyebalkan. Tapi seiring dengan tuntutan pekerjaan, somehow saya jadi harus melakoni semua itu. I wasn't happy with that, tetapi ada beberapa klien yang saya temui dan ketika kita berbincang-bincang ada hal-hal baik yang bisa saya tangkap dari mereka. 

Makan dan jalan-jalan di jam kantor itu sesuatu banget lho. Haha! Mengingat mobilitas dalam pekerjaan cukup tinggi dan rasanya koq jam di luar kantor sering lebih banyak daripada di dalam kantor, sekalian saja toh dinikmati. Sudah kejebak macet sekalian saja melipir mencicipi kuliner daerah setempat. Sudah muak dengan ceramah klien yang menuntut ini itu, sekalian saja segarkan diri di mall terdekat. Eits, I am not saying it's a responsible thing to do, but it's fun.

Memang setiap hal ada pro dan kontranya masing-masing. Segala hal-hal baik di atas ditumpangi dengan kenyataan besar pasak daripada tiang. Kebanyakkan waktu main-main membuat pengeluaran meningkat drastis sedangkan pemasukan sendiri hanya sedikit meningkat. Bertemu dengan banyak orang, masing-masing memiliki tuntutannya sendiri yang terkadang jika tidak dipenuhi bisa membuat kuping panas mendengarkan ceramahnya. 

Saya sudah pindah kerja saat ini, tanpa terasa sudah nyaris setahun lho. Industri yang saya geluti masih sama, namun job desk-nya saja berbeda. Kumpulan orang-orangnya pun berbeda, cara menghabiskan waktu di dalam dan di luar pekerjaan pun berbeda. So far sih tidak menemukan masalah yang terlalu pelik, walaupun ada masanya merindukan pekerjaan pertama.

Yah, seberat apapun pun dan seberapa sering pekerjaan menjadi sumber keluhan kita, ingatlah untuk tetap bersyukur karena banyak orang di luar sana yang berharap untuk punya pekerjaan. Namun jika memang sudah terlalu banyak sisi negatifnya, ya sudah hengkang saja, jangan sampai setiap hari menjadi hari keluhan karena hidup terlalu singkat untuk itu.

Ngomong itu memang mudah ya, karena saat ini saya sendiri pun masih mencari keberanian itu, keberanian yang didukung dengan persiapan yang matang untuk hengkang dari industri ini agar dapat menggeluti apa yang saya cintai. Someday, maybe.

Selamat bekerja!


Saturday, August 16, 2014

Tentang Cinta dan Logika

Pertanyaan: Manakah yang menurut Anda lebih penting, cinta atau logika?
Jawaban: I want both.

Saya baru selesai membaca sebuah novel yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang tidak percaya akan adanya cinta. Dalam cerita itu si perempuan memilih seorang laki-laki karena dia merasa ada hubungan yang dewasa di antara mereka, yang saling mengerti dan menghargai, tapi tidak ada cinta, setidaknya dari sisi si perempuan. Lebih lanjut lagi dikisahkan ada sosok laki-laki lain yang menimbulkan getar-getar aneh *let's say butterfly in her stomach* sejak si perempuan pertama kali bertemu dengannya. Ending-nya? Baca saja sendiri ya.

Anyway, saya mungkin agak hopeless romantic ya, saya masih percaya pentingnya butterfly in my stomach itu. Bukan berarti itu faktor utama dalam sebuah hubungan, namun koq rasanya tanpa itu akan terasa datar. Saya meyakini jatuh cinta ini somehow akan bikin perasaan campur aduk, ada yang bilang deg-degan, ada yang bilang up and down, ada yang bilang bisa bikin senyum-senyum sendiri, labil dan kadang memang gag rasional. Oh, saya percaya itu!

Tetapi Tuhan menciptakan manusia dengan akal budi dan perasaan, tidak hanya salah satu tapi keduanya. Saya juga percaya bahwa dalam cinta, logika itu penting. Jujur sajalah, saya sih tidak bisa hidup hanya makan cinta. Apakah sebuah hubungan patut dipertahankan karena cinta walaupun pasangan Anda suka melakukan kekerasan? Apakah sebuah hubungan layak diperjuangkan karena cinta walaupun pasangan Anda pemalas, tukang mabuk, tukang judi, dan tidak peduli mencari nafkah? Apakah sebuah hubungan perlu dijaga mati-matian jika pasangan Anda tidak mampu berkomitmen dengan Anda *baca: tukang selingkuh, suka tebar pesona, gag ada tanda-tanda siap menjajaki hubungan yang lebih serius, etc*? Apakah demi butterfly in your stomach Anda rela menjalani kehidupan yang seperti saya sebutkan tadi? I don't.

Merasakan cinta itu baik, toh bosan juga kan kalau hidup itu datar-datar saja *lately that's happening in my life*. Tetapi jangan matikan otak Anda, jangan sampai atas nama cinta Anda jadi tidak bisa berpikir lagi. Saya sedang membicarakan hubungan bagi mereka yang belum menikah khususnya. Kalau yang sudah menikah ya mau bilang apa, Anda sudah memilih dan berkomitmen. Tetapi ketika Anda belum menikah, Anda punya kesempatan untuk mengkaji semuanya. 

Jatuh cinta itu penting, ketika hal-hal terasa buram Anda mungkin bisa mengingat manisnya perasaan itu. Cinta itu memampukan orang untuk melakukan banyak hal yang terkadang akal sehat tidak mampu, cinta membuat seseorang mampu memaafkan *karena jujur saja sih ada saatnya pasangan Anda akan melakukan kesalahan dan Anda perlu memaafkan*, cinta membuat seseorang bisa memaklumi, cinta bisa membuat seseorang bertahan. Ya, itu penting! Tetapi pastikanlah bahwa apa yang Anda cintai memang layak untuk dicintai, bukan sosok yang memanfaatkan, menginjak-injak, lebih parah tidak mencintai Anda kembali. Di sinilah Anda perlu mengunakan otak Anda, jangan membutakan diri karena alasan "saya sudah cinta sih". Remember, we are talking about a life time commitment here.

Hmmpphh..tapi kalau dipikir-pikir lagi ya, saya kan jomblo yang hopeless romantic. What do I know about love? Haha! 

Love & Peace!

Tentang Weekend Ideal

Pertanyaan: Bagaimana weekend Anda kali ini?
Jawaban: Love it!

Weekend ideal ini versi saya pribadi lho dan sangat mungkin banyak orang tidak sependapat. Saya menulis ini real time, namun demi keamanan maka lokasi akan dirahasikan *haha..berasa penting*. Anwyay, tipe weekend ideal saya, yang notabene adalah jomblo, terdiri dari books, movie, foods, and a lot of me time *preferably a quiet one*. And i am having all of them right now! Yeah, i love it!

Buku, saya suka membaca tetapi bukan bacaan yang berat-berat. Buat saya banyak persoalan lain dalam hidup ini yang sudah menguras otak saya *maksudnya: kerjaan*, jadi saya memilih membaca untuk hiburan. Novel dan komik itu the best, walaupun kalau komik koq rasanya ketipisan dan terlalu cepat tamat. Maaf ya, saya gag mampu kalau disuruh membaca buku yang memerlukan pemikiran, that hurts my brain, most of the time.

Film, paling asyik sih kalau lagi ada film baru dan bisa nonton dengan memanfaatkan buy one get one free *sungguh berasa iritnya lho*. Ya, tapi kan cari teman nonton itu gag selalu mudah, saya termasuk golongan orang yang tidak berkeberatan menonton sendiri di bioskop. After all, i should focus on the movie, not the person who is with me. Walaupun saya juga gag berkeberatan kalau harus nonton beramai-ramai. Tapi kalau sedang tidak ada film bagus atau tidak ada uang tepatnya *eh, curcol*, menonton film seri barat *bukan Korea lho, bukan!* hasil download-an di dunia maya pun cukup ideal.

Makanan, ini bisa diartikan menyediakan makanan untuk dihabiskan sambil membaca/nonton atau melakukan wisata kuliner. Walaupun namanya wisata kuliner bukan berarti saya akan mencoba jenis makanan yang tidak lazim, yang lazim saja saya banyak yang gag doyan *pemilih makanan*. Namun untuk poin ketiga ini harus disikapi dengan bijak karena sesungguhnya akan sangat berbahaya bagi kondisi berat badan.

Me time, this is why i love weekend because i have no obligations to fulfill. Saya gag harus bangun pagi, gag harus ke kantor, gag harus beramah-ramah dengan orang, gag harus membatasi jam makan siang selama satu jam, basically I love it because I can do whatever I want to. Kadang me time bisa digunakan untuk ke salon *jarang sih*, refleksi *love it*, belanja *yeah right*, etc etc. Semenjak jadi anak kos lagi, me time-nya ditambahin buat nyapu dan ngepel, ganti sprei, bersihin kamar mandi, cuci baju, capek!

But, this weekend is kinda special because finally I have my ideal me time *a quiet one*, setelah beberapa weekend terakhir diramaikan oleh banyak orang *not that I am complaining*. Jadi hari ini saya memutuskan pergi ke suatu tempat, menghabiskan sepanjang hari berteman dengan novel-novel yang mostly roman picisan *sebenarnya saya masih gag mengerti apa sih maksudnya* sambil memandangi pemandangan kota, diselingi dengan sederetan film seri, blogging, dan makan. What a day! Semuanya itu saya lakukan dalam ketenangan, tidak di tengah-tengah hiruk pikuk orang yang biasanya banyak ditemukan di mall atau area wisata di saat weekend. No no, this time I will totally give all the time for myself. 

Bye! Gotta get back to myself.

Thursday, July 24, 2014

Tentang Wowo dan Wiwi

Pertanyaan: Bagaimana pendapat Anda dengan Pemilu 2014 ini?
Jawaban: Kocak!

Saya sudah sangat menahan diri untuk tidak mem-publish apapun di masa Pemilu kemarin. Mengapa? Saya tidak mau dituduh memprovokasi, mempengaruhi, membiaskan pilihan rakyat akan capres dan cawapres yang ada *eh, berasa banyak ya yang baca blog-nya*. Tetapi hasil KPU sudah keluar, tidak ada lagi yang diprovokasi, dipengaruhi atau dibiaskan. Rasanya agak kurang mantap jika saya tidak mencatat mengenai Pemilu ini dalam blog saya, ini sejarah penting lho! 

Indonesia mencatat adanya dua pasangan yang menjadi calon dalam Pemilu 2014 ini, Wowo & partner serta Wiwi & partner. Indonesia pun sudah memilih untuk memenangkan Wiwi & partner dalam Pemilu ini. Kocak, ya sepanjang pengamatan saya akan sejarah Pemilu di Indonesia selama ini, 2014 adalah yang paling nyeleneh. Selama ini pasangan yang kalah akan legowo untuk menerima hasil pemilihan umum, betapapun mungkin dalam hati ada perasaan tidak senang, namun dengan sikap yang baik mereka mengakui kemenangan lawannya dan menunjukkan dukungan. But this time, Wiwi menang, Wowo tidak terima.

Pada awalnya saya sempat punya niat untuk memilih Wowo lho,  kan ceritanya keren kalau Indonesia punya presiden yanng tampaknya tegas dan berani bertindak. Namun semakin diperhatikan koq semakin kacau si Wowo ini. Dan terbukti dari ketidakmampuannya menerima kekalahan dari Wiwi, mengeluarkan tudingan adanya kecurangan yang dilakukan oleh Wiwi, menampilkan hasil quick count ajaib  *yang memenangkan dirinya* yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey yang sekarang dipertanyakan kredibilitasnya, meng-klaim kemenangannya berdasarkan hasil quick count yang beda sendiri itu lantas sampai mengadakan ibadah pengucapan syukur kemenangan Wowo *saya lihat video-nya di youtube dan yang terlihat sih memang hanya kakaknya si Wowo*, menyatakan akan mengirim massa ke KPU untuk mengawal hasil Pemilu *ini statement dari tim suksesnya* di saat sudah dihimbau untuk tidak melakukan hal itu karena bisa memancing konflik , menarik diri dari perhitungan suara di KPU, dengar-dengar yang terakhir mau menuntut KPK dan mengajukan kasus ke Mahkamah Konstitusi. 

Maaf kalau saya salah, saya agak kurang memperhatikan berita tentang hal ini karena ada satu titik di mana saya merasa muak sekali dengan berita-berita tentang Wowo ini. Di mata saya Wowo bukan lagi sosok yang layak untuk memimpin sebuah bangsa, di mata saya sudah menjadi anak kecil yang ngambek karena keinginannya tidak terlaksana. Setelah ngambek, marah-marah, nangis sampai guling-gulingan di lantai seperti yang suka saya lihat di mall-mall. I am not a fan of kids lho, apalagi yang tidak bisa behave

Akhir-akhir ini terlihat juga bahwa calon wakil presiden dari pihak Wowo tidak eksis mendampingi Wowo dalam setiap tindakan-tindakan ajaibnya. Beberapa spekulasi muncul di masyarakat bahwa yang bersangkutan lebih mampu menggunakan akal sehat dan tidak mau terlibat dalam serangan-serangan kekanak-kanakan versi Wowo ini. Beberapa lagi menambahkan yang bersangkutan justru sudah menerima dengan lapang dada hasil dari perhitungkan suara KPU yang memenangkan Wiwi. Apapun itu, saya menilainya sebagai sesuatu yang positif. Walaupun pada awalnya justru saya sempat ragu dengan Bapak yang satu ini, namun akhir-akhir ini justru citranya membaik di mata saya.

Yah, Indonesia ini memang ajaib. Hmmmpphh...sebenarnya sih Wowo yang ajaib ya. Sungguh dengan begini menurut saya Wowo justru menutup kesempatan di masa depan untuk menjadi presiden bangsa ini. Rakyat tidak akan melupakan bagaimana childish-nya pribadi yang satu ini, arogan dan luar biasa tingginya ambisi untuk menang hingga membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya kalau sudah jadi presiden kenapa sih? Rakyat tidak akan lupa bagaimana sengitnya pribadi ini memerangi Wiwi yang justru adem dan kalem hanya demi menjadikan dirinya presiden Indonesia. Maukah Anda punya presiden yang demikian? Saya sih tidak ya, nanti gagal perundingan dengan negara lain ngambek langsung kirim tentara buat perang lagi *andai lho andai*.

Keterlibatan Wowo dalam tragedi Mei 1998 memang bisa dipertanyakan, sulit menyatakan apakah Wowo bersalah atau tidak. Saya sendiri pun waktu itu masih terlalu kecil sehingga tidak ingat dan tidak mengerti kondisi politik dan siapa saja yang terlibat. Namun ketidakmampuan Wowo untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam kekalahan di Pemilu 2014 ini jelas adanya, dan saya akan terus mengingat, mencatat, menceritakan, agar di masa depan ketika anak-anak kita juga memilih, mereka tidak memilih presiden yang kekanak-kanakan.

Selamat Om Wiwi & JK!

Friday, July 18, 2014

Tentang Minuman Beralkohol

Pertanyaan: When was the first time your tried it?
Jawaban: Years ago?


Terlepas dari opini beberapa kalangan mengenai halal atau haramnya jenis minuman ini, jika Anda ingin mencoba, cobalah dengan cara yang terbaik. What does that even mean? Ini bukan tentang jenis minuman apa yang terbaik atau merk apa yang sebaiknya dikonsumsi, namun bagaimanakah cara Anda mengkonsumsinya.Ini bukan air putih, jangan dijadikan konsumsi pagi-siang-malam. Bagaimanapun konsumsi air putih adalah yang terbaik.

Anda harus tahu bahwa alkohol memberi efek yang berbeda-beda juga bagi setiap orang. Saya punya teman yang alergi dan kalau memaksakan untuk mengkonsumsi efeknya bisa gatal-gatal, merah-merah hingga sesak nafas. Agak scary sih kalau sampai sesak nafas dan selamat jalan ke dunia lain *eh*. Intinya, jangan banyak-banyak. Coba ya coba, namun perhatikan dulu bagaimana efeknya pada tubuh Anda.

Jika Anda sudah tahu bahwa Anda tidak alergi pada alkohol, misalnya, jangan lantas menjadi kegirangan karena bisa mengkonsumsi sebanyak apapun. No no, tubuh itu bisa keracunan alkohol lho jika terlalu banyak. Efek jangka panjangnya pun bisa menyebabkan kanker hati *saya lupa baca di mana, tapi saya yakin pernah baca*. Tidak mau kan karena merasa bisa konsumsi semaunya lantas menukarnya dengan hati Anda?

Itu jika bicara mengenai dampak fisik, namun ada juga efek lainnya seperti kehilangan akal sehat. Well, biasanya ini terjadi jika konsumsi terlalu banyak dan efek ke tiap orang beda-beda juga. Saya punya beberapa teman yang kalau saya amati kelakukan mabuknya itu beda-beda, ada yang jadi super pendiam, ada yang emosi tingkat tinggal *senggol bacok*, ada yang ketawa-ketawa dan merasa segala sesuatu super lucu walaupun sebenarnya di mata orang normal tidak lucu-lucu amat, ada yang jadi rajin curhat walaupun isi curhatannya sungguh random.

Anda ingin tahu seperti apa ketika Anda mabuk? Ya kalau emang penasaran banget, saran saya mabuklah di antara orang-orang yang Anda kenal dan percaya. Percaya apa nih? Percaya tidak akan mem-video-kan kelakuan Anda lalu meng-upload ke youtube, percaya tidak akan menjual Anda ke om-om atau tante-tante yang tertarik pada Anda ketika mabuk, percaya tidak akan membiarkan Anda melakukan hal-hal gila seperti lompat dari lantai 7 karena otak Anda sedang tidak waras. Jangan gegabah, karena salah pilih teman dalam hal ini bisa berdampak berat pada masa depan.

Saya percaya bahwa minum itu boleh asal otak saya masih bisa bekerja. Saya tidak bisa membiarkan diri saya mengkonsumsi terlalu banyak alkohol hingga keesokan harinya lupa apa yang dilakukan hari sebelumnya. Saya hanya tidak suka saja sih tidak bisa mengingat apa yang saya lakukan. Tapi jika Anda memutuskan ingin gila-gilaan untuk suatu momen tertentu, do it with the right people *ini hanya Anda yang bisa menilai* and don't do it everyday *apa enaknya sih tiap hari bangun tanpa memori hari sebelumnya*.

Pendapat saya pribadi, tidak ada yang salah dengan minuman beralkohol. Semuanya menjadi salah ketika kita mengkonsumsi dengan cara yang salah di waktu yang salah. Untuk cara yang salah sudah saya bahas di atas, konsumsi berlebih, konsumsi dengan dikelilingi orang-orang yang salah. Bagaimana dengan waktu yang salah?

Saya percaya bahwa minuman beralkohol itu tidak untuk menghilangkan kesedihan. Itu hanya sementara,saudara-saudara. Memang ada efek untuk membuat Anda lebih light and happy, tapi itu tidak permanen dan itu tidak menghilangkan masalah Anda kan. Ketika Anda sober ya balik lagi rasa sedih, kecewa, etc etc dan segudang masalah Anda yang lain. Saya tidak percaya bahwa alkohol itu adalah jalan keluar, itu hanya pelarian. Memangnya tidak capek lari-lari terus? 

Jangan minum dengan tujuan yang salah. Ketika di party, okelah. Ketika kongkow-kongkow, bisa saja, asal bukan setiap kongkow-kongkow. Ketika mau tidur minum segelas wine untuk kesehatan *saya juga merasa pernah baca artikel ini di suatu tempat*, ya sah-sah saja. Ketika  candle light dinner, why not? Tapi jangan pernah minum karena Anda merasa hidup Anda hampa, tidak bahagia, tersakiti, patah hati, dan lain-lain sejenisnya. Drink to celebrate, not to ease the pain.

Masalahnya jika Anda minum untuk merasa bahagia, Anda akan addicted to it. Ketika efeknya hilang, ingin minum lagi supaya merasa senang lagi, begitu terus. Dan itu tidak baik, kawan. Itu hanya akan bikin kantong Anda jebol dan tubuh Anda tidak sehat.

Last but not least, jangan mengkonsumsi minuman beralkohol karena lingkungan pergaulan Anda mengharuskan demikian. Jangan jadi ABG labil *maaf, mungkin tidak semua ABG labil* yang membutuhkan pengakuan lingkungan untuk eksistensinya. Kalau tidak minum tidak keren, kalau tidak merokok tidak gaul, kalau tidak ini tidak cocoklah di sini. Drink because you want it, you know when to drink it, and you arent doing it for the wrong purposes. Drink responsibly!

Cheers!

Friday, July 4, 2014

Tentang Agnes Monica

Pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Agnes Monica?
Jawaban: She knows what she wants, she isnt afraid to fight for it.

Saya adalah generasi Agnes Monica. Yes, basically I grew up with her. Tidak dalam artian saya kenal dia terus kita jadi teman masa kecil bersama, tetapi lebih pada masa kecil saya dihiasi nonton aksinya dia dan karena sepertinya beda usia kita tidak terlalu jauh, saya jadi merasa seperti tumbuh bersama.

Saya bukan tipe orang yang bisa memahami bagaimana rasanya nge-fans berat sama artis, saya suka lihat penampilannya, tetapi bukan berarti saya sampai tergila-gila dan harus senantiasa mengikuti polah tingkahnya. Dari seorang Agnes Monica, yang sungguh membekas dalam ingatan saya adalah "Go International!". At first, saya pikir itu hanya cita-cita muluk, kata-kata *sok* positif yang memang baik sih kalau dimiliki setiap orang. Tapi dalam kenyataannya, berapa banyak sih artis Indonesia yang sukses sampai di tahap itu? 

Skeptis, tentu saja. Namun saya melihat ketika kata-kata yang terus menerus dinyatakan di berbagai media mulai menjadi kenyataan. Tidak dalam waktu singkat lho, berbelas-belas tahun kemudian ketika saya mulai mendengar kabar media bahwa Agnes Monica mengeluarkan lagu-lagu dalam Bahasa Inggris, Agnes Monica mulai konser di luar Indonesia, Agnes monica akhirnya memindahkan aktivitasnya ke California dan menelurkan single Coke Bottle-nya, Agnes Monica ini dan itu. Dan saya terhenyak, her dream comes true!

Saya tidak kenal dia secara pribadi, namun saya kagum pada goal yang sudah dia miliki sejak kecil, saya menghargai usaha dan kerja keras yang berani dia bayar untuk meraih hal itu, dan saya takjub akan pencapaiannya saat ini. Terlepas dari berbagai pro dan kontra, karena memang ada pihak-pihak yang menyayangkan bahkan sampai melecehkan perubahan penampilannya saat ini, buat saya dia berhasil menggapai mimpinya. Salute!

Memiliki mimpi dan cita-cita itu mudah, bengong di siang bolong pun bisa. Namun bagian terpenting yang tidak semua orang bisa melakukannya adalah: apakah kita berani membayar harga untuk menggapai mimpi itu? Because she did!

Have a nice day!


Thursday, June 26, 2014

Tentang Kebahagiaan

Pertanyaan : Apa yang membuatmu bahagia?
Jawaban : Banyak.

Saya percaya bahwa untuk bahagia itu tidak harus menunggu hal yang spektakular, begitu banyak hal kecil yang terjadi dalam keseharian yang seharusnya bisa membuat kita bahagia. Masalahnya terkadang hal-hal kecil tersebut dianggap sudah sepantasnya terjadi sehingga kita tidak lagi dibuat bahagia karenanya. 

Saya tidak mau hidup yang demikian, saya tidak mau menunggu menang undian 5 milyar dahulu untuk jadi bahagia, saya tidak mau menemukan pasangan hidup dulu untuk jadi bahagia, saya tidak mau harus jadi bos dulu untuk bisa bahagia atau menunggu berat badan menjadi 50 kg untuk bisa bahagia. Sungguh tidak!

Banyak yang bilang bahwa kunci kebahagiaan itu adalah bersyukur, dan itu memang benar adanya. Seringkali kita terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki sehingga lupa menikmati apa yang sesungguhnya dimiliki. Mengapa saya bahagia?

Saya bahagia masih punya pekerjaan walaupun belum jadi bos atau bergaji hingga 2 digit per bulan. 

Saya bahagia punya waktu ber-haha hihi dengan teman-teman saya di tengah-tengah kesibukan masing-masing.

Saya bahagia masih bisa melakukan apapun yang saya mau tanpa harus berkompromi dengan pasangan karena saya jomblo.

Saya bahagia walaupun ukuran baju saya masih L/XL dan tidak akan cocok bila berbikini tapi saya bisa makan apapun yang saya suka dan tidak terancam penyakit kronis apapun hingga saat ini.

Saya bahagia meskipun tidak punya TV di kos tetapi masih bisa nonton Piala Dunia streaming dan Belanda menang terus sejauh ini.

Saya bahagia masih punya orang tua walaupun tidak setiap saat bisa bertemu dan tidak selalu mereka itu menyenangkan, apalagi kalau lagi keluar bawelnya.

Saya bahagia bisa jalan-jalan ke berbagai tempat dengan uang saya sendiri walaupun belum sampai keluar Asia Tenggara.

Saya bahagia jadi anak kos yang kadang sepi dan dilanda kebangkrutan tetapi saya bisa bebas mau bangun jam berapa, tidur jam berapa, mau mandi atau tidak, mau bersihin kamar atau tidak.

Saya bahagia bisa menulis blog walaupun tidak ada yang baca karena saya menulis untuk diri saya sendiri di masa depan.

Saya bahagia tinggal di Bandung yang memberi keseimbangan antara kehidupan kota besar dan juga suasana rekreasi setiap harinya.

Saya bahagia berasal dari Kudus yang memperkenalkan saya pada berbagai kuliner khas daerah yang senantiasa memanggil untuk pulang kampung.

Saya bahagia walaupun saya tidak punya mobil tetapi saya punya teman-teman yang sukarela memberikan tebengan ataupun jika harus naik kendaraan umum saya tidak pernah kehilangan barang apapun.

Saya bahagia walaupun kantor saya tidak lagi di depan mall seperti dulu tetapi itu justru membuat saya bisa lebih berhemat *sedikit*.

Saya bahagia walaupun dibilang seperti anak kecil karena tidur jam 9 malam tetapi saya tidak pernah dilanda insomnia, jika saya belum tidur hingga lewat tengah malam, pasti ada tujuannya dan memang karena keinginan saya.

Saya bahagia walaupun bahasa inggris saya gag bagus-bagus amat tetapi masih bisalah untuk sekedar baca novel, nonton film, baca menu atau chitchat dengan foreigner.

Saya tidak bilang bahwa hidup saya sempurna dan serba ada. Bila ingin membicarakan kekurangan tentulah banyak yang akan diutarakan. Namun untuk apa? Saya juga tidak sesumbar mengatakan bahwa hidup saya tanpa masalah. Oh man,, jika kita ingin membahas masalah, kapan sih dia pernah benar-benar hilang dari kehidupan ini? Tunggu mati kali ya. Tapi itu kan berarti tidak akan pernah bisa bahagia sampai mati. Mau?

Menemukan hal-hal yang membuat kita bahagia itu bukan perkara mudah, sungguh, karena entah bagaimana kita ini memang lebih mudah mencari jeleknya daripada bagusnya. Tetapi hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan tidak bahagia. Jika saat ini saya bisa bahagia, untuk apa menunggu nanti yang belum tentu ada?

Be happy! NOW!

Tuesday, May 27, 2014

Tentang Keputusan Terbodoh

Pertanyaan: Apakah keputusan terbodoh yang pernah Anda buat dalam hidup Anda?
Jawaban: So far? Let's get back to 2003.

Dulu saya punya teman satu sekolah, kita tidak pernah sekelas sih namun kita cukup dekat. Bukan dekat dalam lingkup romantis, kita adalah sahabat. Pada waktu itu saya menganggap bahwa dia cukup bijak, lebih dewasa daripada pemikiran saya yang dangkal sekali *masih sih sampai sekarang*

Tiga tahun masa persahabatan saya dan dia, berawal dari kedatangan dia sebagai tetangga baru saya. Lalu sebagai sesama murid baru yang tidak kenal siapa-siapa di sekolah baru, hari pertama sekolah pun bersama. Kebetulan sekolah kita cukup dekat dari rumah dan bisa ditempuh dengan bersepeda, jadilah rutinitas pulang pergi bersama berlanjut hingga hari kelulusan kita di sekolah tersebut.

Saya tidak bisa bilang bahwa semuanya selalu menyenangkan, ada masa-masa di mana saya menganggap dia menyebalkan, sampai pada satu titik membosankan. Saya sih sudah tidak ingat apa masalahnya, dan tidak tahu apakah dia juga pernah menilai saya demikian. Namun untungnya, persahabatan itu tetap berlanjut. 

Di hari terakhir kita bersekolah, kalau tidak salah untuk urusan ijazah, kelulusan, atau semacamnya, saya menyadari mood dia yang tidak begitu baik. Tidak tau kenapa, tapi dia tampak murung. Saya pikir mungkin karena ini waktunya perpisahan. Saya pun sedih sekali waktu itu akan berpisah dengan teman-teman yang lain, terutama dengan salah satu sahabat saya yang lain yang akan melanjutkan sekolah di luar kota. 

Tapi dengan dia, saya tidak terlalu sedih tuh. Saya terlalu yakin masih banyak waktu bagi kita untuk bertemu, kalau tidak sebagai teman satu sekolah lagi *karena kita memang rencananya pisah sekolah*, setidaknya kita masih akan terus bertetangga untuk jangka waktu yang sangat lama. Saat itu saya dengan angkuhnya meyakini tidak perlulah bersedih-sedih ria saying goodbye or something like that dengan dia. Malah mungkin saya sempat sedikit kesal dengan kemurungan dia waktu itu.

Hari itu saya langsung memulai liburan saya, maklum masa lulus sekolah kan biasanya libur panjang hingga 3 bulan. Saya ke luar kota, pulang kampung tepatnya. Dalam ingatan samar-samar saya, hari pertama atau kedua saya berada di kampung saya, salah seorang teman mengabarkan bahwa dia kecelakaan motor dan meninggal dunia. Saya tidak tahu harus bagaimana menanggapi berita itu, sungguh.

Dalam ketidakjelasan dan didorong kedangkalan otak saya *yang sungguh bodoh*, saya memutuskan tidak kembali ke kota tempat tinggal saya untuk menghadiri pemakamannya. Alasan pertama saya, jika tidak melihatnya sendiri bisa jadi semua kabar itu hanya palsu sehingga saya masih bisa berharap ketika saya kembali akan bertemu dia yang masih hidup dan sehat walafiat. Alasan kedua, saya tidak mau liburan saya terganggu karena sekalipun saya korbankan waktu liburan saya untuk kembali menghadiri pemakamannya, toh dia tidak akan hidup lagi *lihat kan betapa bodoh dan egoisnya saya?*.

Dan keputusan itu ternyata menghantui saya hingga bertahun-tahun ke depan. Selang beberapa waktu perasaaan bersalah karena tidak menghadiri pemakaman sahabat sendiri mengejar-ngejar saya, tuduhan bahwa saya adalah makhluk paling egois dan hina sejagad raya tidak bisa hilang dari dalam diri saya. Memang tidak ada orang-orang sekitar yang menyalahkan saya, tidak ada yang mencaci maki ataupun marah-marah dengan saya. Tapi saya marah pada diri saya sendiri, ditambah dengan penyesalan mendalam karena di hari terakhir kita bertemu we didn't have a proper goodbye, karena di hari terakhir kita bertemu saya sangat menyepelekan keberadaannya dengan menganggap masih banyak waktu untuk kita buang-buang bersama. And I was wrong, stupid, and selfish.

Saya tidak mencatat pasti berapa lama perasaan bersalah itu menghantui, bertahun-tahun yang pasti. Saat ini memang sudah tidak, karena ada satu titik di mana saya merasa bahwa I have to get a closure so I dont have to live this kind of life again. I did get my closure when I visited his grave. Maybe that was stupid or whatever, but I consider that as an imperative act for me because without that I could never continue my life.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa dengan itu lantas semua perasaan sedih bisa hilang, tidak. Ada momen-momen di mana perasaan itu muncul, namun tidak lagi berupa perasaan negatif yang menyudutkan saya. Saya sedih karena kehilangan sahabat, benar. Saya kadang merindukan dia dan berpikir apa jadinya jika sampai saat ini dia masih hidup dan kita masih bersahabat *I never expected more than that because we were good as friends, but could be a total disaster if we were more than that*. Tapi bedanya saya tidak lagi dihantui rasa bersalah itu. Saya tahu keputusan saya berbelas-belas tahun lalu itu bodoh dan keliru, dan kalau terulang tentu saya akan bertindak berbeda. Namun saya juga menerima bahwa waktu tidak akan bisa berputar kembali sekeras apapun saya berharap dan mengutuki diri sendiri, jadi lebih baik saya berhenti menjejalkan hal-hal negatif ke dalam diri saya.

Tidak ada manusia yang sempurna, di waktu-waktu tertentu kadang ada keputusan bodoh yang kita ambil. Ada tindakan-tindakan keliru yang kita buat dan memunculkan penyesalan. Namun saya belajar bahwa semua itu harus diselesaikan, we all need a closure to move on. Apa bentuknya tentu berbeda bagi masing-masing orang. Just dont let your guilt and regret destroy your life, do something about it, NOW!

Wednesday, April 30, 2014

Tentang Teman Seperjalanan

Pertanyaan: Bagaimanakah pendapat Anda tentang teman seperjalanan?
Jawaban: They could be fun as long as we have the right one

Jadi ceritanya saya ini baru saja pulang dari Bali, liburan. Kenapa Bali?Lagi-lagi Bali? Begitu banyak komentar demikian yang terlontar, maklum saya bisa dibilang kinda addicted to Bali. Kenapanya mungkin bisa dibaca di sini saja. Anyway, bukan destinasi atau aktivitas liburannya yang mau saya bicarakan di sini, namun lebih pada : dengan siapa saya pergi.

Beberapa waktu lalu saat sedang gencar-gencarnya merencanakan pindah kerja, tiba-tiba saya dan beberapa teman kerja dengan sangat impulsifnya *sungguh tidak pakai mikir kelamaan* memutuskan untuk spend time bareng di Bali beberapa bulan setelah saya resign. Ceritanya dalam rangka reuni lagi *padahal juga baru tidak bertemu beberapa bulan*. So, we went to Bali, spent 4 days together, did *I dont know* things we wanted to do, had a holiday!

Dan dari sanalah saya jadi tersadar kalau menghabiskan waktu dengan teman seperjalanan yang tepat itu fun lho. Walaupun saya dan 3 teman saya itu aneh dengan cara masing-masing, tapi sepertinya masing-masing sudah memiliki peranan sendiri untuk menghidupkan ataupun meredam suasana. Di tengah segala perbedaan *saya rasa teman saya yang sedikit OCD=Obsessive Compulsive Disorder pasti emosi berat sama kelakuan saya yang berantakkan total*, we tried to tolerate each other and made the best out of it. Perjalanan yang dilalui jadi terasa fun, fast *too fast*, and memorable. Sampai jadi sedih saat perjalanan itu akan berakhir.

Saya pikir mencari teman seperjalanan yang tepat itu penting. Tentu tidak ada yang mau rencana senang-senangnya amburadul karena salah pilih teman perjalanan, yang harusnya Bali super fun bisa jadi disaster. Masih untung kalau perjalanan ke Bali kan ada tenggat waktunya, paling lama seminggulah mungkin harus bersama, bisa ditahan-tahanin. Kalau perjalanan hidup bagaimana?

Ketika komitmen kebersamaan itu untuk seumur hidup, to be honest it kinda scares me. Segala sesuatu mungkin terjadi dalam perjalanan itu, dari hal-hal baik sampai yang buruk. Apakah dalam hal-hal baik si teman seperjalanan bisa menjadi teman having fun? Apakah dalam masa-masa sukar si teman seperjalanan bisa menjadi a shoulder to cry on, or even better a partner to pray with. Apakah ketika hidup berjalan biasa aja si teman seperjalanan bisa menjadi sosok untuk menghapuskan kebosanan? This is extremely hard. Ini bukan soal jalan-jalan ke Bali yang kalau ternyata tidak cocok dengan teman seperjalanan bisa pisah jalan, cari hotel lain, lalu jalan-jalan sendiri.

Buat saya sih, going alone is much better than spending time with a horrible travel mate. Saya tidak sejalan dengan konsep "ajak siapa aja biar ada temannya, daripada pergi sendiri kan". Hey, saya mau liburan senang-senang lho, males kan kalau ajak "siapa saja" yang lantas kerjanya mengeluh, minta dibayarin terus, diajak ngobrol tidak nyambung, maunya serba mewah, gayanya menyebalkan, dan sejuta sisi negatif lainnya *sesuaikan saja sendiri dengan preferensi pribadi Anda tentang orang yang tidak Anda suka*.

Kalau soal teman perjalanan liburan saja saya berprinsip demikian dan lebih memilih pergi sendiri dengan segala konsekuensinya, termasuk kadang juga memang terasa sepi, apakah saya harus berkonsep "ajak siapa saja daripada sendirian" dalam konteks teman perjalanan hidup? Weird kan ya. Saya mengenal beberapa orang yang apapun alasannya, she/he just cant stand the idea of being alone and it's gonna be much better for them to have anyone around, no matter how bad that person is. I can't say that's wrong because I believe that everyone is different and supposed to make their own choices in life.

However, if I have a hundred year to live *that means around 75 years left*, I really hope that I don't have to spend it with someone I can't stand. I know that time goes on and some people keep pushing me to find a "travel mate", but that doesn't mean I am gonna make it work with just anyone. I need to know that this is the right one, the one whom I am gonna share the journey of my life with. So, be patient and I hope you all find that wonderful "travel mate" of yours, too.

Friday, April 25, 2014

Tentang Telur

Pertanyaan: Apakah Anda suka telur?
Jawaban: Suka sekali.

Saya ini pecinta telur, dari telur ayam, telur bebek dan telur puyuh. Kalau yang agak aneh seperti telur pitan, rasa-rasanya masih belum sanggup menelannya. Menurut saya, makanan apapun enak kalau pakai telur. Nasi goreng telur, indomie telur, nasi + telur dadar/ceplok/orak-arik, bubur ditambah telur *sounds like jenis-jenis makanan yang affordable buat anak kos*. Yah, pokoknya dulu itu saya bisa makan telur banyak kali dalam sehari.

Namun ketika hasil cek lab mengindikasikan kadar kolestrol saya agak tinggi, saya mulai mengatur konsumsi telur, terutama telur puyuh yang katanya kadar kolestrolnya berlipat-lipat dibanding telur biasa. Ya, kalau dulu bisa makan berbutir-butir, sekarang 1-2 butir ajalah. Soalnya saya itu tidak terlalu rajin olahraga, apa jadinya kalau makan dihajar namun olahraga seadanya. Begini-begini saya masih memikirkan kesehatan jiwa dan raga *talk to the hand*

Anyway, saya masih kesulitan kalau untuk sungguh-sungguh berhenti makan telur. Beberapa bilang makan saja putih telurnya karena yang kadar kolestrolnya tinggi itu kuning telurnya *yeah right, yang enak itu kan kuningnya*.

Oh, beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel bahwa telur itu adalah menstruasinya ayam karena tidak dibuahi lantas tidak menjadi anak ayam dan keluarlah dalam wujud telur itu. Saya lupa membaca artikel itu di mana, namun saya sempat jijik dan tidak makan telur beberapa waktu. But I love it too much to stop eating it forever. Jadi setelah beberapa hari berselang, saya mulai mengkonsumsi telur lagi.

Nah, saya juga baru tahu kalau rice cooker itu ternyata bisa digunakan untuk masak telur dadar atau telur ceplok. Jadi beberapa waktu yang lalu saya terdorong oleh desakan ekonomi dan mulai berpikir cara untuk makan murah setiap harinya. Mengingat di kosan saya hanya ada rice cooker dan mau beli kompor listrik koq rasanya mahal, jadilah saya harus berhemat dengan sumber daya yang ada. Ternyata hasil googling memberi informasi cara memasak telur dengan rice cooker. Use butter instead of oil. Ya, tapi hasil telurnya sih agak beda wujudnya dengan hasil masakan kompor gas. But it's still yummy and cheap.

Begitulah kira-kira kisah telur dalam kehidupan saya. Dan maafkan, posting-an ini agak meaningless sepertinya. 

Tuesday, April 22, 2014

Tentang Mati Muda

Pertanyaan: Bagaimana jika Anda mati muda?
Jawaban: Hah? Apa?!

If i die young, bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song
(http://www.azlyrics.com/lyrics/bandperry/ifidieyoung.html)

Tidak ada yang pernah tahu berapa lama waktu yang dimiliki seseorang di dunia ini. Beberapa menutup usia setelah berjuang dan berpesta *saya percaya hidup ini harus seimbang antara perjuangan dan kesenangan* lebih dari 80 tahun. Beberapa mengakhiri pada usia standar 70-80 tahun. Beberapa lebih muda lagi di usaia 60-70. Terkadang saya merasa sedih jika mendengar usia 60 pun tak bisa dicapai oleh seseorang. Semakin mengejutkan lagi jika mereka di usia 20-an sudah menyelesaikan pertandingan. 

Ini bukan soal mana yang lebih baik karena usia adalah rahasia Tuhan. Namun ada kalanya saya ingin protes kepada Tuhan "Why so fast?". Saya punya seorang teman yang cukup dekat dan dia meninggal di usia 14 atau 15 *I am not so sure* karena kecelakaan motor. Right, he was the one who drove the motorcycle. Beberapa hari sebelumnya saya masih sempat mengobrol dan bersenda gurau, to be exact he was my neighbor and also schoolmate, siapa yang menyangka dalam hitungan hari itu juga saya akan mendapat telepon bahwa dia sudah meninggal. It took years for me to make peace with that, but I do eventually.

The point is siapa sih yang bisa jamin besok Anda dan saya masih hidup? Walaupun saya selalu memohon kalau boleh sih mencapai usia 100 tahun, kan masih banyak yang belum saya lakukan dalam kehidupan ini. Permohonan saya juga melebar, kalau boleh meninggalnya jangan karena kecelakaan donk Tuhan, saya seram. Semakin meluas lagi, tapi kalau karena kecelakaan hanya membuat cacat lebih baik meninggal saja deh Tuhan. Here I am, trying to be God's boss. Amazing!

Menyadari bahwa hidup ini adalah waktu yang dipinjamkan, ada baiknya jika dijalani dengan semaksimal mungkin *bagaimanapun definisi Anda akan maksimal itu*, sehingga pada akhirnya tidak ada penyesalan. Bersyukur karena saya sudah melewati usia 25 karena tidak semua orang dapat privilege yang sama, termasuk teman saya itu.

Dan karena kita pun tidak pernah tahu kapan orang-orang di sekitar kita berakhir hidupnya, ada baiknya try our best to leave them on good terms, always. Jangan sampai yang pada akhirnya dikenang adalah makian atau amarah terakhir. That is really not a good memory.

So, if I die young *which I really really really hope not*, bury me in red.
Whatever the rules, the culture, the customs, what is supposed to do or not to do, screw them.
Just bury me in red.



Saturday, April 19, 2014

Tentang Rokok (dan Perempuan)

Pertanyaan: Apakah Anda merokok?
Jawaban: Tidak.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin *sebagaimana dikatakan dalam iklan rokok itu sendiri*. Tetapi tampaknya  merokok memang sudah menjadi aktivitas umum yang bisa dilakukan di mana saja. Baiklah, tidak di mana saja karena dewasa ini masayarakat sudah semakin sadar bahaya rokok dan untuk para perokok biasanya disediakan smoking room di area publik. Beberapa perokok sendiri sepertinya sudah cukup sadar diri untuk tidak asal sembar-sembur asap ke muka orang, yeah sometimes.

Saya sendiri bukan perokok dan pernah ada masa di mana saya alergi berat dengan para perokok. Saya sendiri tidak bisa ingat kapan, tapi saya mulai belajar bertoleransi dengan mereka selama mereka pun bertoleransi dengan saya *baca: tahu tempat*. Saya pikir toh setiap orang punya kesenangannya masing-masing, sekalipun orang bilang kesenangan mereka itu berbahaya, mereka sudah cukup dewasa untuk memilih dan menikmati kesenangan itu. Jadi, let's respect each other.

Hanya saja kadang ada komentar-komentar yang membuat saya gerah ketika ada perempuan yang merokok di tempat umum. Komentarnya bukan sekedar "merokok koq di tempat umum, asapnya mengganggu"; tetapi sudah menjurus kepada masalah gender "perempuan koq merokok, tidak pantas, pasti perempuan tidak benar". And who are you to judge? Jika perempuan yang merokok diasosiasikan dengan perempuan tidak benar, maka laki-laki yang merokok adalah hal biasa. Oh man, apakah Anda generasi 1800-an?

Merasa terganggu dengan asap rokok adalah hal yang wajar, medis pun menyatakan kemungkinan adanya gangguan kesehatan akan hal itu. Tidak mau menjadi perokok pasif yang katanya menanggung bahaya lebih besar dibanding perokok aktif, sungguh saya mengerti. Namun jangan sampai mengkaitkan rokok dengan gender, lebih-lebih menjadikannya dasar untuk menilai seseorang. 

Jika Anda bisa menerima sebatang rokok terselip di bibir seorang laki-laki, maka terimalah hal yang sama terselip di bibir seorang perempuan. Jika Anda bisa menerima seorang laki-laki untuk ber-poligami, maka terimalah kemungkinan seorang perempuan untuk ber-poliandri *okay, this one is kinda out of context*

Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, bebas menentukan pilihan untuk merokok ataupun tidak. Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, sudah sewajarnya memahami dan menimbang pro kontra mereka sendiri.
Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, tidak akan semena-mena mendiskreditkan orang lain hanya karena gender semata.

Saya perempuan, dan saya tidak merokok.

Tentang "Friends for Life"

Pertanyaan: Do you have it?
Jawaban: I hope so.

Beberapa orang memang beruntung, memiliki jalinan pertemanan yang tidak putus walaupun telah berpuluh-puluh tahun berjalan. Beberapa yang sangat beruntung bahkan masih bisa berteman sampai maut memisahkan *sounds like wedding vow ya*. Tetapi apakah memang bertahannya sebuah jalinan pertemanan itu karena keberuntungan? 

Saya punya beberapa teman *jujur saja jumlah teman saya itu tidak banyak* sejak SMA. Dulu kita ber-delapan, namun seiring berjalannya waktu dan sejuta hal-hal lainnya, semakin sulit *kalau tidak impossible* untuk menyatukan waktu bersama.  Things that make it harder are:

Pertama, jadwal hidup yang berubah. Beberapa sudah menikah, beberapa sibuk bekerja, beberapa lainnya sibuk hura-hura *this is me*. Yang sudah menikah disibukkan dengan suami dan anak. Yang sibuk bekerja impossible  to disturb on workdays, dan weekend sudah punya schedule sendiri. Yang sibuk hura-hura *like me* ke sana ke sini mencari teman main demi memuaskan hasrat masa muda *sungguh, ini berlebihan*.

Kedua, lokasi tinggal yang variatif. Saya sendiri sudah relokasi ke Bandung demi pekerjaan, ada juga yang relokasi ke Jakarta setelah menikah. Beberapa memang masih berdomisili di Tangerang, bahkan ada yang sekompleks perumahan namun tetap jarang bertemu.

Ketiga, hubungan di antara kami itu aneh, kami memang saling mengenal satu sama lain namun sejujurnya tidak saling terikat semuanya. Keakraban kami tidak merata di antara ber-delapan ini, dan ada orang-orang yang posisinya sebagai jembatan. Jadi kalau orang-orang tertentu itu tidak ada, terkadang sulit menyambungkan bahan perbincangan dan ujung-ujungnya bisa jadi boring.

Keempat, topik pembicaraan yang sudah bergeser. Beberapa hidupnya berpusat pada keluarga, jelas bahan ulasannya adalah anak dan perkembangannya, kadang suami dan pembantu, urusan dapur dan keuangan. Beberapa hidupnya berpusat pada pekerjaan dengan bahan perbincangan tidak jauh-jauh dari urusan kantor. Beberapa hidupnya penuh ketidakjelasan dan yang membuatnya tertarik adalah segala hal yang menyenangkan, bukan masalah ekonomi, bukan masalah keterbatasan waktu, bukan soal anak sakit, bukan pula soal kerjaan yang tiada akhir. Di sini semuanya menjadi sulit, satu ketertarikan bentrok dengan yang lainnya.

I was so ready to give it up because there are too many excuses why we cant no longer be friends, but then  I realize if we really want it to work, we should make it work. Like any other relationship, hard work is needed to make it survive. That's what i've been learning lately

Menyadari bahwa segala sesuatu memang pasti akan berubah dan untuk itu saya harus beradaptasi. Topik bahasan yang berbeda coba dijembatani dengan keinginan untuk saling mendengarkan. Bentrokan jadwal dan kesibukan dimaklumi saja oleh pihak yang lebih fleksibel. Terbatasnya komunikasi mungkin bisa dibantu dengan interaksi di dunia maya. Permasalahan-permasalahan yang terjadi diminimalkan dengan segudang maaf dan rela *oh ya? still working on it for sure*.

Tidak ada yang menjamin pertemanan ini selamanya berjalan lancar, but  I still think it's worth the efforts. Tonight one of my friend posted a photo of (some of) us with tagline " 11 years and counting". I felt the warmth *mungkin saya berlebihan*. Keep counting and hopefully we are gonna have friends for life in the end.

Friday, April 11, 2014

Tentang Eksistensi Tuhan

Pertanyaan: Apakah Anda percaya adanya Tuhan?
Jawaban: Ya, saya percaya Tuhan itu ada.

Pemikiran manusia yang semakin kompleks dan rasa ingin tahu yang semakin mendalam membuat banyak orang mempertanyakan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab tak jarang membuat orang kehilangan kepercayaannya pada eksistensi Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa dibiarkan segala ketidakadilan dan kejahatan di dalam dunia? Jika Tuhan ada, mengapa segala bencana dibiarkan terjadi? Jika Tuhan ada, mengapa kehidupan di dunia ini begitu kacau? Tuhan tidak ada, jika pun ada Dia tidak peduli, jika pun peduli Dia sudah tidak sanggup lagi, jika tidak sanggup lagi jelas Dia bukan Tuhan.

Perjalanan hidup saya tidak selalu diwarnai keyakinan yang teguh akan keberadaan Tuhan. Ada masa-masa di mana saya juga mempertanyakan eksistensiNya. Namun pada akhirnya saya tidak pernah bisa menerima konsep tentang tidak adanya Tuhan karena sesederhana saya mengarahkan pandangan pada langit dan bumi, pada bulan dan bintang, dan segala makhluk yang hidup, sesederhana itu juga saya meyakini Tuhan itu ada. Sepengetahuan saya *yang sungguh terbatas memang*, tidak ada manusia yang dapat menciptakan manusia. Memang ada teknologi bayi tabung, namun toh asalnya dari sel telur dan sperma manusia juga. Memang saya pernah mendengar teknologi kloning, tapi apakah ada hasil nyata manusia hasil kloning yang mampu hidup seperti manusia pada umumnya? Sesederhana saya menyadari masa depan yang adalah misteri dan hidup mati saya yang tidak pernah bisa dipastikan, sesederhana itu saya yakin Tuhan ada mengatur segala sesuatunya.

Saya pun menyadari keinginan saya mempercayai bahwa Tuhan itu tidak ada semata-mata untuk memudahkan hidup saya sendiri. Jika Tuhan tidak ada, maka saya tidak harus mendengarkan apa maunya Tuhan, maka saya bisa hidup sebagaimana saya mau. Jika Tuhan tidak ada, maka kematian manusia adalah akhir tanpa ada apa-apa lagi, maka dalam hidup yang terbatas nikmatilah segala kesenangan yang ada selagi memungkinkan. Jika Tuhan tidak ada, tidak ada otoritas di atas saya, dan kebebasan itu sungguh menggoda.

Beberapa mungkin meyakini adanya kekuatan lain di luar kehidupan di muka bumi ini, tetapi mereka enggan menyebutnya Tuhan. Hanya sebuah kekuatan yang mengatur seluruh eksistensi alam raya dan isinya, namun tidak jelas identitasnya. Buat saya, lebih mudah melabeli itu dengan sebutan Tuhan. Dengan adanya nama, maka saya bisa mengenaliNya, maka saya bisa menjalin hubungan denganNya. Hubungan yang dekat membawa pada pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan *walaupun bukan berarti saya bisa menjelaskan segala hal yang menjadi pertanyaan di dunia ini*; pemahaman membawa hidup saya masuk dalam sebuah kerangka aturannya Tuhan. Mungkin *lagi-lagi ini cuma analisa saya yang suka-suka*, dengan tidak memberikan pengenalan mendalam pada kekuatan di luar eksistensi manusia membuat kita lebih mudah menjalani hidup yang lagi-lagi kembali pada hidup suka-suka.

Percaya akan eksistensi Tuhan tidak lantas membuat saya menjadi manusia superior karena pada hakikatnya saya adalah manusia biasa yang kerapkali masih hidup dalam kesalahan. Namun ketika saya tahu Tuhan itu ada, saya belajar melakukan yang terbaik dan mengikhlaskan *sungguh ini pembelajaran terberat* karena saya tahu Dia ada dan turut bekerja dalam kehidupan ini. 

Bagaimanapun, cara kita memandang mengenai Tuhan merupakan kebebasan pribadi setiap manusia. Tidak ada yang berhak memaksakan karena toh Tuhan sendiri tidak pernah memaksa saya untuk percaya padaNya.




Wednesday, April 9, 2014

Tentang Begadang

Pertanyaan: Apakah Anda suka begadang?
Jawaban : Tentu tidak, saya manusia di bawah jam 12 malam.

Bagi orang-orang yang mengenal saya tentu cukup tahun bahwa saya memiliki jam tidur yang panjang dan jam terjaga yang relatif singkat. Saya selalu mengatakan bahwa pukul 9 malam adalah jam tidur saya. Terdengar seperti anak SD ya? Apalagi jika dibandingkan dengan rata-rata teman-teman saya yang biasanya tertidur paling cepat pukul 11 malam. Lantas apakah tidur cepat membuat saya bisa bangun lebih pagi dari yang lain? Tidak juga sih, saya tetap bangun pagi di sekitar pukul 6 atau setengah 7, relatif samalah dengan teman-teman yang lain. 

Beberapa ada yang mengatakan pola tidur saya ini karena kebiasaan sejak kecil. Namun jika ditelaah sebenarnya tidak juga sih, saya termasuk hobi begadang di masa-masa kuliah. Tidak jelas juga apa yang dilakukan, dari berkelana di dunia maya, melahap buku-buku *fiksi ya, bukan buku materi kuliah* yang menarik, menonton film, hingga merenungkan ketidakjelasan segala sesuatu *gayanya seperti filsuf saja*. Tapi semua itu bisa dilakukan tanpa beban, karena kita semua tahulah betapa longgarnya jadwal kuliah itu *atau hanya jadwal kuliah saja yang longgar?*. Rata-rata kelas yang saya hadiri di atas jam 8 pagi, jikapun sampai ada kelas pagi dan terlalu malas bangun sudah pasti meminta bantuan teman untuk menyelamatkan hal-hal tertentu di dalam kelas *semoga anda tahu apa maksudnya ini*.

Saya teringat beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, seorang teman memberitahu saya dampak negatif dari begadang. Mungkin saat itu dia prihatin dengan hobi saya. Intinya, begadang dapat menyebabkan kerusakan otak dan memperpendek umur *mungkin ini dampak kerusakan otak atau kurang fungsi otak yang bisa menyebabkan kecelakaan ketika sedang terjaga*. Tetapi apapun itu, bukan isu kesehatan ini yang menggerakkan saya untuk tidak begadang.

Setelah saya perhatikan sebenarnya pola tidur saya itu erat kaitannya dengan jadwal saya di esok hari. Ya, jika esok memang diharuskan untuk beraktivitas awal, untuk apa saya menghabiskan malam dengan begadang? Jadi selama weekdays anda akan jarang sekali menemukan saya terjaga di atas jam 9 malam *jam 10 maksimal*. Namun jika ternyata esok hari saya tidak punya agenda apapun, i dont mind to strecth my schedule a lil bit. Dan pada saat-saat tertentu ketika berkumpul dengan teman-teman, saya sungguh tidak berkeberatan jika memang aktivitas ketika tidak tidur itu lebih menarik daripada menghabiskan waktu untuk tidur. Walaupun esok harinya sudah bisa dipastikan sedikit melayang dan semakin siang jadi mengantuk hebat. Memang ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesenangan.

Salah satu hal yang agak sulit untuk saya mengerti adalah orang-orang yang sulit tidur setiap harinya *insomnia*. Saya memiliki beberapa teman yang demikian, mereka rata-rata masih terjaga di atas jam 12 malam walaupun esoknya harus bangun pagi dan berujung pada waktu tidur yang hanya 2-3 jam. Mengerikan! Tidak, tidak, saya tidak mengatakan itu sesuatu yang buruk yang untuk dilakukan *walaupun mungkin memang buruk bila mengacu pada bahaya begadang*; namun yang coba saya sampaikan di sini adalah bagaimana bisa ada orang tidak bisa tidur sementara tidur itu begitu mudah *eh, itu bagi saya ya*.

Yah, saya rasa ini adalah salah satu hal yang patut saya syukuri ketika Tuhan masih memberi kemudahan bagi saya untuk tidur. Mungkin terdengar sepele, namun percayalah bahwa tidur itu bisa menjadi anugerah luar biasa bagi beberapa orang di luar sana. Terlebih lagi ketika saya diberi fleksibilitas untuk menentukan apakah malam ini akan tidur normal versi saya  *sekitar 8 jam plus plus sehari* atau begadang, sungguh itu adalah anugerah.

Selamat tidur!


Tuesday, April 8, 2014

Tentang Pemilu Legislatif

Pertanyaan: Siapakah yang akan Anda pilih di pemilu legislatif 2014?
Jawaban : Tidak tahu, saya bahkan tidak akan berpartisipasi dalam pemilu nanti.

Pemerintah memang sudah menetapkan tanggal 9 April 2014 sebagai hari libur nasional dengan tujuan agar seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemilu legislatif. Sejujurnya, sampai beberapa hari yang lalu saya bahkan masih belum mengerti apa itu pemilu legislatif. Namun berdasarkan informasi dari beberapa rekan, bisa disimpulkan bahwa hasil pemilu ini akan menentukan siapa sajakah yang berhak menjadi calon presiden pada pemilu presiden di bulan Juli 2014 mendatang. 

Ya, sesungguhnya pemilu legislatif ini penting untuk mengurangi pilihan di saat pemilihan presiden kelak. Saat ini sudah santer terdengar berbagai sosok, dari yang menurut saya gila sampai waras, yang berlomba-lomba memantaskan dirinya sebagai presiden Indonesia periode 2014-2019. Jika semua diizinkan untuk berkompetisi saat pemilu presiden, kertas suaranya akan terlalu lebar atau malah fotonya terlalu kecil sampai-sampai pemilih tidak bisa membedakan ini siapa dan itu siapa *agak berlebihan memang*. Lantas mengapa saya tidak berpartisipasi?

Pertama, saya bingung dengan pemerintah kenapa pemilu diadakan di tengah minggu begini (hari Rabu). Walaupun dicanangkan sebagai hari libur nasional, tapi kan sulit juga untuk kembali ke tempat KTP asal bagi manusia perantauan seperti saya. Belum lagi ongkosnya mahal lho. Seandainya diadakan di hari Jumat atau Senin, tentulah akan lebih menyenangkan sekaligus menikmati long weekend.

Kedua, saya bingung apakah saya bisa memilih di daerah saya berada saat ini dan bukan di daerah asal. Tapi seharusnya sih tidak bisa ya, soalnya kan saya tidak terdaftar sebagai warga sini. Dan lagi saya terlalu apatis untuk mencari tahu bagaimana prosedur supaya bisa memilih di daerah perantauan ini.

Ketiga, saya bingung mau pilih siapa. Sebenarnya ini berakar dari krisis kepercayaan saya yang mendalam terhadap pemerintah dan dunia politik. Semua berkampanye, calon begitu banyak, semua mau jadi caleg, namun hanya sedikit yang mengerti apa tugas dan tanggungjawab sebagai caleg. Menyedihkan, dalam bayangan saya caleg-caleg tanpa kompetensi ini ujung-ujungnya hanya akan tidur di sidang-sidang yang mereka ikuti, sebagian lagi sibuk menggelapkan uang rakyat, sebagian lagi akan mendadak tenar karena adegan mesum sembunyi-sembunyi yang ketahuan ataupun karena komentar bodoh di depan media massa menunjukkan betapa mengenaskannya pemahaman mereka tentang isu-isu di masyarakat. Yah, sebagian lagi memang akan sungguh-sungguh memperjuangkan hak rakyat, namun kinerja minoritas ini tertutupi oleh kelakuan ajaib mayoritas. Maafkan, saya mungkin terlalu skeptis. Tapi sungguh saya trauma menyaksikan tayangan Mata Najwa episode Farhat Abas dan terlalu shock mendengar Rhoma Irama mau ikutan nyapres *memang ini adalah hak setiap WNI, sebagaiman hak saya juga untuk tertegun menyaksikan dagelan politik di Indonesia ini*.

Keempat, saya sudah tau siapa yang akan jadi capres. Ha! Ya, saya bukan cenayang, tapi arah angin politik ke mana kan sudah terlihatlah. Kalaupun meleset setidaknya dari beberapa capres nanti ada satulah yang bisa saya pilih, kecuali capresnya Abang Rhoma vs Om Bakri *maaf sebut merk ya*. Oh tidak, saya batal milih lagi saja kalo gitu.

Bagi para pemilih yang akan berkontribusi esok hari, semoga mendapat pencerahan. Bagi para caleg yang terpilih, semoga akal sehat dan hati nuraninya bisa dipakai. Bagi yang tidak terpilih, semoga tidak menjadi depresi lantas hilang akal. 

Indonesia, selamat memilih!