Jawaban: Kocak!
Saya sudah sangat menahan diri untuk tidak mem-publish apapun di masa Pemilu kemarin. Mengapa? Saya tidak mau dituduh memprovokasi, mempengaruhi, membiaskan pilihan rakyat akan capres dan cawapres yang ada *eh, berasa banyak ya yang baca blog-nya*. Tetapi hasil KPU sudah keluar, tidak ada lagi yang diprovokasi, dipengaruhi atau dibiaskan. Rasanya agak kurang mantap jika saya tidak mencatat mengenai Pemilu ini dalam blog saya, ini sejarah penting lho!
Indonesia mencatat adanya dua pasangan yang menjadi calon dalam Pemilu 2014 ini, Wowo & partner serta Wiwi & partner. Indonesia pun sudah memilih untuk memenangkan Wiwi & partner dalam Pemilu ini. Kocak, ya sepanjang pengamatan saya akan sejarah Pemilu di Indonesia selama ini, 2014 adalah yang paling nyeleneh. Selama ini pasangan yang kalah akan legowo untuk menerima hasil pemilihan umum, betapapun mungkin dalam hati ada perasaan tidak senang, namun dengan sikap yang baik mereka mengakui kemenangan lawannya dan menunjukkan dukungan. But this time, Wiwi menang, Wowo tidak terima.
Pada awalnya saya sempat punya niat untuk memilih Wowo lho, kan ceritanya keren kalau Indonesia punya presiden yanng tampaknya tegas dan berani bertindak. Namun semakin diperhatikan koq semakin kacau si Wowo ini. Dan terbukti dari ketidakmampuannya menerima kekalahan dari Wiwi, mengeluarkan tudingan adanya kecurangan yang dilakukan oleh Wiwi, menampilkan hasil quick count ajaib *yang memenangkan dirinya* yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey yang sekarang dipertanyakan kredibilitasnya, meng-klaim kemenangannya berdasarkan hasil quick count yang beda sendiri itu lantas sampai mengadakan ibadah pengucapan syukur kemenangan Wowo *saya lihat video-nya di youtube dan yang terlihat sih memang hanya kakaknya si Wowo*, menyatakan akan mengirim massa ke KPU untuk mengawal hasil Pemilu *ini statement dari tim suksesnya* di saat sudah dihimbau untuk tidak melakukan hal itu karena bisa memancing konflik , menarik diri dari perhitungan suara di KPU, dengar-dengar yang terakhir mau menuntut KPK dan mengajukan kasus ke Mahkamah Konstitusi.
Maaf kalau saya salah, saya agak kurang memperhatikan berita tentang hal ini karena ada satu titik di mana saya merasa muak sekali dengan berita-berita tentang Wowo ini. Di mata saya Wowo bukan lagi sosok yang layak untuk memimpin sebuah bangsa, di mata saya sudah menjadi anak kecil yang ngambek karena keinginannya tidak terlaksana. Setelah ngambek, marah-marah, nangis sampai guling-gulingan di lantai seperti yang suka saya lihat di mall-mall. I am not a fan of kids lho, apalagi yang tidak bisa behave.
Akhir-akhir ini terlihat juga bahwa calon wakil presiden dari pihak Wowo tidak eksis mendampingi Wowo dalam setiap tindakan-tindakan ajaibnya. Beberapa spekulasi muncul di masyarakat bahwa yang bersangkutan lebih mampu menggunakan akal sehat dan tidak mau terlibat dalam serangan-serangan kekanak-kanakan versi Wowo ini. Beberapa lagi menambahkan yang bersangkutan justru sudah menerima dengan lapang dada hasil dari perhitungkan suara KPU yang memenangkan Wiwi. Apapun itu, saya menilainya sebagai sesuatu yang positif. Walaupun pada awalnya justru saya sempat ragu dengan Bapak yang satu ini, namun akhir-akhir ini justru citranya membaik di mata saya.
Yah, Indonesia ini memang ajaib. Hmmmpphh...sebenarnya sih Wowo yang ajaib ya. Sungguh dengan begini menurut saya Wowo justru menutup kesempatan di masa depan untuk menjadi presiden bangsa ini. Rakyat tidak akan melupakan bagaimana childish-nya pribadi yang satu ini, arogan dan luar biasa tingginya ambisi untuk menang hingga membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya kalau sudah jadi presiden kenapa sih? Rakyat tidak akan lupa bagaimana sengitnya pribadi ini memerangi Wiwi yang justru adem dan kalem hanya demi menjadikan dirinya presiden Indonesia. Maukah Anda punya presiden yang demikian? Saya sih tidak ya, nanti gagal perundingan dengan negara lain ngambek langsung kirim tentara buat perang lagi *andai lho andai*.
Keterlibatan Wowo dalam tragedi Mei 1998 memang bisa dipertanyakan, sulit menyatakan apakah Wowo bersalah atau tidak. Saya sendiri pun waktu itu masih terlalu kecil sehingga tidak ingat dan tidak mengerti kondisi politik dan siapa saja yang terlibat. Namun ketidakmampuan Wowo untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam kekalahan di Pemilu 2014 ini jelas adanya, dan saya akan terus mengingat, mencatat, menceritakan, agar di masa depan ketika anak-anak kita juga memilih, mereka tidak memilih presiden yang kekanak-kanakan.
Selamat Om Wiwi & JK!
No comments:
Post a Comment