Friday, October 3, 2014

Tentang Pekerjaan Pertama

Pertanyaan: Apa yang Anda ingat tentang pekerjaan pertama Anda?
Jawaban: Hmmpphh...gajinya?

Banyak yang pertama kali dilakukan menjadi hal yang meninggalkan kesan yang mendalam. Entah kenapa beberapa hari ini saya menjadi sedikit terkenang dengan pekerjaan pertama saya. Bukannya saya tidak puas dengan pekerjaan saat ini, bukan juga saya ingin kembali pada pekerjaan pertama itu, tetapi ada rasa sedikit kangen mungkin. Kebetulan beberapa waktu belakangan ini saya sedang sibuk mengikuti kisah perjalanan teman saya yang hendak masuk ke tempat di mana saya bekerja pertama kali itu. Jadi ada sedikit dorongan untuk bernostalgia.

Pekerjaan pertama didapat beberapa bulan setelah lulus kuliah, mulai desperado karena nggak ada yang menerima di sana sini, mulai berpikir jangan-jangan saya akan jadi pengangguran selamanya. Eh, tiba-tiba kantor A ini merespons lamaran saya dengan cepat. Ya, sepertinya sih untuk industri ini memang sudah dikenal cepat memberi respons karena turnover pegawai mereka pun cukup tinggi. Singkat cerita, saya diterima untuk mengikuti pendidikan ini itu selama beberapa bulan, ikatan dinas satu tahun, gaji apa adanya Rp 3,5 juta (tapi lebih baik daripada tidak berpenghasilan), dan masuklah saya ke industri yang sebenarnya tidak saya pahami sama sekali itu.

Apakah saya menyesal? Kalau dipikir-pikir lagi sih ada ya dan tidaknya. Ya karena sejujurnya di lubuk hati terdalam i feel like i dont belong in this industry; well, i can do it and i will do it to the best that i can, but deep down i know i should try another thing; but i don't have that much courage yet or ever, i don't know.

But, ada juga hal-hal yang bikin saya tidak menyesal dengan pekerjaan pertama saya ini, seperti:

Kesempatan untuk menemukan teman-teman yang konyol dan mengajarkan hal-hal penting dalam hidup saya. Kebetulan kita semua rata-rata seumuran dan konflik yang dihadapi ya begitulah, dan hal-hal yang kita anggap penting dan tidak penting masih cukup serupa, sehingga saya merasa cocoklah. 

Punya bos yang rasanya kayak bukan bos tapi ya bos juga sih. Gimana ya, saya cukup bersyukur sih pertama kali kerja dan agak deg-degan bagaimana cara masuk ke dunia itu, eh dipertemukan dengan bos yang bukan sekedar tukang perintah tidak jelas tetapi juga mengajarkan dan membantu dalam pekerjaan. Bukan bos yang sekedar menyelamatkan diri sendiri dengan menginjak anak buahnya. I would say she is great! Ditambah lagi bos saya ini juga mampu menempatkan diri untuk ikutan kongkow-kongkow tanpa menciptakan suasana aneh, if you know what i mean.

Bertemu klien-klien yang variatif. Saya sih tidak suka-suka amat untuk bertemu dan ber-haha hihi dengan orang-orang baru, apalagi kalau orang barunya menyebalkan. Tapi seiring dengan tuntutan pekerjaan, somehow saya jadi harus melakoni semua itu. I wasn't happy with that, tetapi ada beberapa klien yang saya temui dan ketika kita berbincang-bincang ada hal-hal baik yang bisa saya tangkap dari mereka. 

Makan dan jalan-jalan di jam kantor itu sesuatu banget lho. Haha! Mengingat mobilitas dalam pekerjaan cukup tinggi dan rasanya koq jam di luar kantor sering lebih banyak daripada di dalam kantor, sekalian saja toh dinikmati. Sudah kejebak macet sekalian saja melipir mencicipi kuliner daerah setempat. Sudah muak dengan ceramah klien yang menuntut ini itu, sekalian saja segarkan diri di mall terdekat. Eits, I am not saying it's a responsible thing to do, but it's fun.

Memang setiap hal ada pro dan kontranya masing-masing. Segala hal-hal baik di atas ditumpangi dengan kenyataan besar pasak daripada tiang. Kebanyakkan waktu main-main membuat pengeluaran meningkat drastis sedangkan pemasukan sendiri hanya sedikit meningkat. Bertemu dengan banyak orang, masing-masing memiliki tuntutannya sendiri yang terkadang jika tidak dipenuhi bisa membuat kuping panas mendengarkan ceramahnya. 

Saya sudah pindah kerja saat ini, tanpa terasa sudah nyaris setahun lho. Industri yang saya geluti masih sama, namun job desk-nya saja berbeda. Kumpulan orang-orangnya pun berbeda, cara menghabiskan waktu di dalam dan di luar pekerjaan pun berbeda. So far sih tidak menemukan masalah yang terlalu pelik, walaupun ada masanya merindukan pekerjaan pertama.

Yah, seberat apapun pun dan seberapa sering pekerjaan menjadi sumber keluhan kita, ingatlah untuk tetap bersyukur karena banyak orang di luar sana yang berharap untuk punya pekerjaan. Namun jika memang sudah terlalu banyak sisi negatifnya, ya sudah hengkang saja, jangan sampai setiap hari menjadi hari keluhan karena hidup terlalu singkat untuk itu.

Ngomong itu memang mudah ya, karena saat ini saya sendiri pun masih mencari keberanian itu, keberanian yang didukung dengan persiapan yang matang untuk hengkang dari industri ini agar dapat menggeluti apa yang saya cintai. Someday, maybe.

Selamat bekerja!


No comments:

Post a Comment