Tuesday, May 27, 2014

Tentang Keputusan Terbodoh

Pertanyaan: Apakah keputusan terbodoh yang pernah Anda buat dalam hidup Anda?
Jawaban: So far? Let's get back to 2003.

Dulu saya punya teman satu sekolah, kita tidak pernah sekelas sih namun kita cukup dekat. Bukan dekat dalam lingkup romantis, kita adalah sahabat. Pada waktu itu saya menganggap bahwa dia cukup bijak, lebih dewasa daripada pemikiran saya yang dangkal sekali *masih sih sampai sekarang*

Tiga tahun masa persahabatan saya dan dia, berawal dari kedatangan dia sebagai tetangga baru saya. Lalu sebagai sesama murid baru yang tidak kenal siapa-siapa di sekolah baru, hari pertama sekolah pun bersama. Kebetulan sekolah kita cukup dekat dari rumah dan bisa ditempuh dengan bersepeda, jadilah rutinitas pulang pergi bersama berlanjut hingga hari kelulusan kita di sekolah tersebut.

Saya tidak bisa bilang bahwa semuanya selalu menyenangkan, ada masa-masa di mana saya menganggap dia menyebalkan, sampai pada satu titik membosankan. Saya sih sudah tidak ingat apa masalahnya, dan tidak tahu apakah dia juga pernah menilai saya demikian. Namun untungnya, persahabatan itu tetap berlanjut. 

Di hari terakhir kita bersekolah, kalau tidak salah untuk urusan ijazah, kelulusan, atau semacamnya, saya menyadari mood dia yang tidak begitu baik. Tidak tau kenapa, tapi dia tampak murung. Saya pikir mungkin karena ini waktunya perpisahan. Saya pun sedih sekali waktu itu akan berpisah dengan teman-teman yang lain, terutama dengan salah satu sahabat saya yang lain yang akan melanjutkan sekolah di luar kota. 

Tapi dengan dia, saya tidak terlalu sedih tuh. Saya terlalu yakin masih banyak waktu bagi kita untuk bertemu, kalau tidak sebagai teman satu sekolah lagi *karena kita memang rencananya pisah sekolah*, setidaknya kita masih akan terus bertetangga untuk jangka waktu yang sangat lama. Saat itu saya dengan angkuhnya meyakini tidak perlulah bersedih-sedih ria saying goodbye or something like that dengan dia. Malah mungkin saya sempat sedikit kesal dengan kemurungan dia waktu itu.

Hari itu saya langsung memulai liburan saya, maklum masa lulus sekolah kan biasanya libur panjang hingga 3 bulan. Saya ke luar kota, pulang kampung tepatnya. Dalam ingatan samar-samar saya, hari pertama atau kedua saya berada di kampung saya, salah seorang teman mengabarkan bahwa dia kecelakaan motor dan meninggal dunia. Saya tidak tahu harus bagaimana menanggapi berita itu, sungguh.

Dalam ketidakjelasan dan didorong kedangkalan otak saya *yang sungguh bodoh*, saya memutuskan tidak kembali ke kota tempat tinggal saya untuk menghadiri pemakamannya. Alasan pertama saya, jika tidak melihatnya sendiri bisa jadi semua kabar itu hanya palsu sehingga saya masih bisa berharap ketika saya kembali akan bertemu dia yang masih hidup dan sehat walafiat. Alasan kedua, saya tidak mau liburan saya terganggu karena sekalipun saya korbankan waktu liburan saya untuk kembali menghadiri pemakamannya, toh dia tidak akan hidup lagi *lihat kan betapa bodoh dan egoisnya saya?*.

Dan keputusan itu ternyata menghantui saya hingga bertahun-tahun ke depan. Selang beberapa waktu perasaaan bersalah karena tidak menghadiri pemakaman sahabat sendiri mengejar-ngejar saya, tuduhan bahwa saya adalah makhluk paling egois dan hina sejagad raya tidak bisa hilang dari dalam diri saya. Memang tidak ada orang-orang sekitar yang menyalahkan saya, tidak ada yang mencaci maki ataupun marah-marah dengan saya. Tapi saya marah pada diri saya sendiri, ditambah dengan penyesalan mendalam karena di hari terakhir kita bertemu we didn't have a proper goodbye, karena di hari terakhir kita bertemu saya sangat menyepelekan keberadaannya dengan menganggap masih banyak waktu untuk kita buang-buang bersama. And I was wrong, stupid, and selfish.

Saya tidak mencatat pasti berapa lama perasaan bersalah itu menghantui, bertahun-tahun yang pasti. Saat ini memang sudah tidak, karena ada satu titik di mana saya merasa bahwa I have to get a closure so I dont have to live this kind of life again. I did get my closure when I visited his grave. Maybe that was stupid or whatever, but I consider that as an imperative act for me because without that I could never continue my life.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa dengan itu lantas semua perasaan sedih bisa hilang, tidak. Ada momen-momen di mana perasaan itu muncul, namun tidak lagi berupa perasaan negatif yang menyudutkan saya. Saya sedih karena kehilangan sahabat, benar. Saya kadang merindukan dia dan berpikir apa jadinya jika sampai saat ini dia masih hidup dan kita masih bersahabat *I never expected more than that because we were good as friends, but could be a total disaster if we were more than that*. Tapi bedanya saya tidak lagi dihantui rasa bersalah itu. Saya tahu keputusan saya berbelas-belas tahun lalu itu bodoh dan keliru, dan kalau terulang tentu saya akan bertindak berbeda. Namun saya juga menerima bahwa waktu tidak akan bisa berputar kembali sekeras apapun saya berharap dan mengutuki diri sendiri, jadi lebih baik saya berhenti menjejalkan hal-hal negatif ke dalam diri saya.

Tidak ada manusia yang sempurna, di waktu-waktu tertentu kadang ada keputusan bodoh yang kita ambil. Ada tindakan-tindakan keliru yang kita buat dan memunculkan penyesalan. Namun saya belajar bahwa semua itu harus diselesaikan, we all need a closure to move on. Apa bentuknya tentu berbeda bagi masing-masing orang. Just dont let your guilt and regret destroy your life, do something about it, NOW!