Wednesday, April 30, 2014

Tentang Teman Seperjalanan

Pertanyaan: Bagaimanakah pendapat Anda tentang teman seperjalanan?
Jawaban: They could be fun as long as we have the right one

Jadi ceritanya saya ini baru saja pulang dari Bali, liburan. Kenapa Bali?Lagi-lagi Bali? Begitu banyak komentar demikian yang terlontar, maklum saya bisa dibilang kinda addicted to Bali. Kenapanya mungkin bisa dibaca di sini saja. Anyway, bukan destinasi atau aktivitas liburannya yang mau saya bicarakan di sini, namun lebih pada : dengan siapa saya pergi.

Beberapa waktu lalu saat sedang gencar-gencarnya merencanakan pindah kerja, tiba-tiba saya dan beberapa teman kerja dengan sangat impulsifnya *sungguh tidak pakai mikir kelamaan* memutuskan untuk spend time bareng di Bali beberapa bulan setelah saya resign. Ceritanya dalam rangka reuni lagi *padahal juga baru tidak bertemu beberapa bulan*. So, we went to Bali, spent 4 days together, did *I dont know* things we wanted to do, had a holiday!

Dan dari sanalah saya jadi tersadar kalau menghabiskan waktu dengan teman seperjalanan yang tepat itu fun lho. Walaupun saya dan 3 teman saya itu aneh dengan cara masing-masing, tapi sepertinya masing-masing sudah memiliki peranan sendiri untuk menghidupkan ataupun meredam suasana. Di tengah segala perbedaan *saya rasa teman saya yang sedikit OCD=Obsessive Compulsive Disorder pasti emosi berat sama kelakuan saya yang berantakkan total*, we tried to tolerate each other and made the best out of it. Perjalanan yang dilalui jadi terasa fun, fast *too fast*, and memorable. Sampai jadi sedih saat perjalanan itu akan berakhir.

Saya pikir mencari teman seperjalanan yang tepat itu penting. Tentu tidak ada yang mau rencana senang-senangnya amburadul karena salah pilih teman perjalanan, yang harusnya Bali super fun bisa jadi disaster. Masih untung kalau perjalanan ke Bali kan ada tenggat waktunya, paling lama seminggulah mungkin harus bersama, bisa ditahan-tahanin. Kalau perjalanan hidup bagaimana?

Ketika komitmen kebersamaan itu untuk seumur hidup, to be honest it kinda scares me. Segala sesuatu mungkin terjadi dalam perjalanan itu, dari hal-hal baik sampai yang buruk. Apakah dalam hal-hal baik si teman seperjalanan bisa menjadi teman having fun? Apakah dalam masa-masa sukar si teman seperjalanan bisa menjadi a shoulder to cry on, or even better a partner to pray with. Apakah ketika hidup berjalan biasa aja si teman seperjalanan bisa menjadi sosok untuk menghapuskan kebosanan? This is extremely hard. Ini bukan soal jalan-jalan ke Bali yang kalau ternyata tidak cocok dengan teman seperjalanan bisa pisah jalan, cari hotel lain, lalu jalan-jalan sendiri.

Buat saya sih, going alone is much better than spending time with a horrible travel mate. Saya tidak sejalan dengan konsep "ajak siapa aja biar ada temannya, daripada pergi sendiri kan". Hey, saya mau liburan senang-senang lho, males kan kalau ajak "siapa saja" yang lantas kerjanya mengeluh, minta dibayarin terus, diajak ngobrol tidak nyambung, maunya serba mewah, gayanya menyebalkan, dan sejuta sisi negatif lainnya *sesuaikan saja sendiri dengan preferensi pribadi Anda tentang orang yang tidak Anda suka*.

Kalau soal teman perjalanan liburan saja saya berprinsip demikian dan lebih memilih pergi sendiri dengan segala konsekuensinya, termasuk kadang juga memang terasa sepi, apakah saya harus berkonsep "ajak siapa saja daripada sendirian" dalam konteks teman perjalanan hidup? Weird kan ya. Saya mengenal beberapa orang yang apapun alasannya, she/he just cant stand the idea of being alone and it's gonna be much better for them to have anyone around, no matter how bad that person is. I can't say that's wrong because I believe that everyone is different and supposed to make their own choices in life.

However, if I have a hundred year to live *that means around 75 years left*, I really hope that I don't have to spend it with someone I can't stand. I know that time goes on and some people keep pushing me to find a "travel mate", but that doesn't mean I am gonna make it work with just anyone. I need to know that this is the right one, the one whom I am gonna share the journey of my life with. So, be patient and I hope you all find that wonderful "travel mate" of yours, too.

Friday, April 25, 2014

Tentang Telur

Pertanyaan: Apakah Anda suka telur?
Jawaban: Suka sekali.

Saya ini pecinta telur, dari telur ayam, telur bebek dan telur puyuh. Kalau yang agak aneh seperti telur pitan, rasa-rasanya masih belum sanggup menelannya. Menurut saya, makanan apapun enak kalau pakai telur. Nasi goreng telur, indomie telur, nasi + telur dadar/ceplok/orak-arik, bubur ditambah telur *sounds like jenis-jenis makanan yang affordable buat anak kos*. Yah, pokoknya dulu itu saya bisa makan telur banyak kali dalam sehari.

Namun ketika hasil cek lab mengindikasikan kadar kolestrol saya agak tinggi, saya mulai mengatur konsumsi telur, terutama telur puyuh yang katanya kadar kolestrolnya berlipat-lipat dibanding telur biasa. Ya, kalau dulu bisa makan berbutir-butir, sekarang 1-2 butir ajalah. Soalnya saya itu tidak terlalu rajin olahraga, apa jadinya kalau makan dihajar namun olahraga seadanya. Begini-begini saya masih memikirkan kesehatan jiwa dan raga *talk to the hand*

Anyway, saya masih kesulitan kalau untuk sungguh-sungguh berhenti makan telur. Beberapa bilang makan saja putih telurnya karena yang kadar kolestrolnya tinggi itu kuning telurnya *yeah right, yang enak itu kan kuningnya*.

Oh, beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel bahwa telur itu adalah menstruasinya ayam karena tidak dibuahi lantas tidak menjadi anak ayam dan keluarlah dalam wujud telur itu. Saya lupa membaca artikel itu di mana, namun saya sempat jijik dan tidak makan telur beberapa waktu. But I love it too much to stop eating it forever. Jadi setelah beberapa hari berselang, saya mulai mengkonsumsi telur lagi.

Nah, saya juga baru tahu kalau rice cooker itu ternyata bisa digunakan untuk masak telur dadar atau telur ceplok. Jadi beberapa waktu yang lalu saya terdorong oleh desakan ekonomi dan mulai berpikir cara untuk makan murah setiap harinya. Mengingat di kosan saya hanya ada rice cooker dan mau beli kompor listrik koq rasanya mahal, jadilah saya harus berhemat dengan sumber daya yang ada. Ternyata hasil googling memberi informasi cara memasak telur dengan rice cooker. Use butter instead of oil. Ya, tapi hasil telurnya sih agak beda wujudnya dengan hasil masakan kompor gas. But it's still yummy and cheap.

Begitulah kira-kira kisah telur dalam kehidupan saya. Dan maafkan, posting-an ini agak meaningless sepertinya. 

Tuesday, April 22, 2014

Tentang Mati Muda

Pertanyaan: Bagaimana jika Anda mati muda?
Jawaban: Hah? Apa?!

If i die young, bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song
(http://www.azlyrics.com/lyrics/bandperry/ifidieyoung.html)

Tidak ada yang pernah tahu berapa lama waktu yang dimiliki seseorang di dunia ini. Beberapa menutup usia setelah berjuang dan berpesta *saya percaya hidup ini harus seimbang antara perjuangan dan kesenangan* lebih dari 80 tahun. Beberapa mengakhiri pada usia standar 70-80 tahun. Beberapa lebih muda lagi di usaia 60-70. Terkadang saya merasa sedih jika mendengar usia 60 pun tak bisa dicapai oleh seseorang. Semakin mengejutkan lagi jika mereka di usia 20-an sudah menyelesaikan pertandingan. 

Ini bukan soal mana yang lebih baik karena usia adalah rahasia Tuhan. Namun ada kalanya saya ingin protes kepada Tuhan "Why so fast?". Saya punya seorang teman yang cukup dekat dan dia meninggal di usia 14 atau 15 *I am not so sure* karena kecelakaan motor. Right, he was the one who drove the motorcycle. Beberapa hari sebelumnya saya masih sempat mengobrol dan bersenda gurau, to be exact he was my neighbor and also schoolmate, siapa yang menyangka dalam hitungan hari itu juga saya akan mendapat telepon bahwa dia sudah meninggal. It took years for me to make peace with that, but I do eventually.

The point is siapa sih yang bisa jamin besok Anda dan saya masih hidup? Walaupun saya selalu memohon kalau boleh sih mencapai usia 100 tahun, kan masih banyak yang belum saya lakukan dalam kehidupan ini. Permohonan saya juga melebar, kalau boleh meninggalnya jangan karena kecelakaan donk Tuhan, saya seram. Semakin meluas lagi, tapi kalau karena kecelakaan hanya membuat cacat lebih baik meninggal saja deh Tuhan. Here I am, trying to be God's boss. Amazing!

Menyadari bahwa hidup ini adalah waktu yang dipinjamkan, ada baiknya jika dijalani dengan semaksimal mungkin *bagaimanapun definisi Anda akan maksimal itu*, sehingga pada akhirnya tidak ada penyesalan. Bersyukur karena saya sudah melewati usia 25 karena tidak semua orang dapat privilege yang sama, termasuk teman saya itu.

Dan karena kita pun tidak pernah tahu kapan orang-orang di sekitar kita berakhir hidupnya, ada baiknya try our best to leave them on good terms, always. Jangan sampai yang pada akhirnya dikenang adalah makian atau amarah terakhir. That is really not a good memory.

So, if I die young *which I really really really hope not*, bury me in red.
Whatever the rules, the culture, the customs, what is supposed to do or not to do, screw them.
Just bury me in red.



Saturday, April 19, 2014

Tentang Rokok (dan Perempuan)

Pertanyaan: Apakah Anda merokok?
Jawaban: Tidak.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin *sebagaimana dikatakan dalam iklan rokok itu sendiri*. Tetapi tampaknya  merokok memang sudah menjadi aktivitas umum yang bisa dilakukan di mana saja. Baiklah, tidak di mana saja karena dewasa ini masayarakat sudah semakin sadar bahaya rokok dan untuk para perokok biasanya disediakan smoking room di area publik. Beberapa perokok sendiri sepertinya sudah cukup sadar diri untuk tidak asal sembar-sembur asap ke muka orang, yeah sometimes.

Saya sendiri bukan perokok dan pernah ada masa di mana saya alergi berat dengan para perokok. Saya sendiri tidak bisa ingat kapan, tapi saya mulai belajar bertoleransi dengan mereka selama mereka pun bertoleransi dengan saya *baca: tahu tempat*. Saya pikir toh setiap orang punya kesenangannya masing-masing, sekalipun orang bilang kesenangan mereka itu berbahaya, mereka sudah cukup dewasa untuk memilih dan menikmati kesenangan itu. Jadi, let's respect each other.

Hanya saja kadang ada komentar-komentar yang membuat saya gerah ketika ada perempuan yang merokok di tempat umum. Komentarnya bukan sekedar "merokok koq di tempat umum, asapnya mengganggu"; tetapi sudah menjurus kepada masalah gender "perempuan koq merokok, tidak pantas, pasti perempuan tidak benar". And who are you to judge? Jika perempuan yang merokok diasosiasikan dengan perempuan tidak benar, maka laki-laki yang merokok adalah hal biasa. Oh man, apakah Anda generasi 1800-an?

Merasa terganggu dengan asap rokok adalah hal yang wajar, medis pun menyatakan kemungkinan adanya gangguan kesehatan akan hal itu. Tidak mau menjadi perokok pasif yang katanya menanggung bahaya lebih besar dibanding perokok aktif, sungguh saya mengerti. Namun jangan sampai mengkaitkan rokok dengan gender, lebih-lebih menjadikannya dasar untuk menilai seseorang. 

Jika Anda bisa menerima sebatang rokok terselip di bibir seorang laki-laki, maka terimalah hal yang sama terselip di bibir seorang perempuan. Jika Anda bisa menerima seorang laki-laki untuk ber-poligami, maka terimalah kemungkinan seorang perempuan untuk ber-poliandri *okay, this one is kinda out of context*

Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, bebas menentukan pilihan untuk merokok ataupun tidak. Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, sudah sewajarnya memahami dan menimbang pro kontra mereka sendiri.
Seorang dewasa, laki-laki ataupun perempuan, tidak akan semena-mena mendiskreditkan orang lain hanya karena gender semata.

Saya perempuan, dan saya tidak merokok.

Tentang "Friends for Life"

Pertanyaan: Do you have it?
Jawaban: I hope so.

Beberapa orang memang beruntung, memiliki jalinan pertemanan yang tidak putus walaupun telah berpuluh-puluh tahun berjalan. Beberapa yang sangat beruntung bahkan masih bisa berteman sampai maut memisahkan *sounds like wedding vow ya*. Tetapi apakah memang bertahannya sebuah jalinan pertemanan itu karena keberuntungan? 

Saya punya beberapa teman *jujur saja jumlah teman saya itu tidak banyak* sejak SMA. Dulu kita ber-delapan, namun seiring berjalannya waktu dan sejuta hal-hal lainnya, semakin sulit *kalau tidak impossible* untuk menyatukan waktu bersama.  Things that make it harder are:

Pertama, jadwal hidup yang berubah. Beberapa sudah menikah, beberapa sibuk bekerja, beberapa lainnya sibuk hura-hura *this is me*. Yang sudah menikah disibukkan dengan suami dan anak. Yang sibuk bekerja impossible  to disturb on workdays, dan weekend sudah punya schedule sendiri. Yang sibuk hura-hura *like me* ke sana ke sini mencari teman main demi memuaskan hasrat masa muda *sungguh, ini berlebihan*.

Kedua, lokasi tinggal yang variatif. Saya sendiri sudah relokasi ke Bandung demi pekerjaan, ada juga yang relokasi ke Jakarta setelah menikah. Beberapa memang masih berdomisili di Tangerang, bahkan ada yang sekompleks perumahan namun tetap jarang bertemu.

Ketiga, hubungan di antara kami itu aneh, kami memang saling mengenal satu sama lain namun sejujurnya tidak saling terikat semuanya. Keakraban kami tidak merata di antara ber-delapan ini, dan ada orang-orang yang posisinya sebagai jembatan. Jadi kalau orang-orang tertentu itu tidak ada, terkadang sulit menyambungkan bahan perbincangan dan ujung-ujungnya bisa jadi boring.

Keempat, topik pembicaraan yang sudah bergeser. Beberapa hidupnya berpusat pada keluarga, jelas bahan ulasannya adalah anak dan perkembangannya, kadang suami dan pembantu, urusan dapur dan keuangan. Beberapa hidupnya berpusat pada pekerjaan dengan bahan perbincangan tidak jauh-jauh dari urusan kantor. Beberapa hidupnya penuh ketidakjelasan dan yang membuatnya tertarik adalah segala hal yang menyenangkan, bukan masalah ekonomi, bukan masalah keterbatasan waktu, bukan soal anak sakit, bukan pula soal kerjaan yang tiada akhir. Di sini semuanya menjadi sulit, satu ketertarikan bentrok dengan yang lainnya.

I was so ready to give it up because there are too many excuses why we cant no longer be friends, but then  I realize if we really want it to work, we should make it work. Like any other relationship, hard work is needed to make it survive. That's what i've been learning lately

Menyadari bahwa segala sesuatu memang pasti akan berubah dan untuk itu saya harus beradaptasi. Topik bahasan yang berbeda coba dijembatani dengan keinginan untuk saling mendengarkan. Bentrokan jadwal dan kesibukan dimaklumi saja oleh pihak yang lebih fleksibel. Terbatasnya komunikasi mungkin bisa dibantu dengan interaksi di dunia maya. Permasalahan-permasalahan yang terjadi diminimalkan dengan segudang maaf dan rela *oh ya? still working on it for sure*.

Tidak ada yang menjamin pertemanan ini selamanya berjalan lancar, but  I still think it's worth the efforts. Tonight one of my friend posted a photo of (some of) us with tagline " 11 years and counting". I felt the warmth *mungkin saya berlebihan*. Keep counting and hopefully we are gonna have friends for life in the end.

Friday, April 11, 2014

Tentang Eksistensi Tuhan

Pertanyaan: Apakah Anda percaya adanya Tuhan?
Jawaban: Ya, saya percaya Tuhan itu ada.

Pemikiran manusia yang semakin kompleks dan rasa ingin tahu yang semakin mendalam membuat banyak orang mempertanyakan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab tak jarang membuat orang kehilangan kepercayaannya pada eksistensi Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa dibiarkan segala ketidakadilan dan kejahatan di dalam dunia? Jika Tuhan ada, mengapa segala bencana dibiarkan terjadi? Jika Tuhan ada, mengapa kehidupan di dunia ini begitu kacau? Tuhan tidak ada, jika pun ada Dia tidak peduli, jika pun peduli Dia sudah tidak sanggup lagi, jika tidak sanggup lagi jelas Dia bukan Tuhan.

Perjalanan hidup saya tidak selalu diwarnai keyakinan yang teguh akan keberadaan Tuhan. Ada masa-masa di mana saya juga mempertanyakan eksistensiNya. Namun pada akhirnya saya tidak pernah bisa menerima konsep tentang tidak adanya Tuhan karena sesederhana saya mengarahkan pandangan pada langit dan bumi, pada bulan dan bintang, dan segala makhluk yang hidup, sesederhana itu juga saya meyakini Tuhan itu ada. Sepengetahuan saya *yang sungguh terbatas memang*, tidak ada manusia yang dapat menciptakan manusia. Memang ada teknologi bayi tabung, namun toh asalnya dari sel telur dan sperma manusia juga. Memang saya pernah mendengar teknologi kloning, tapi apakah ada hasil nyata manusia hasil kloning yang mampu hidup seperti manusia pada umumnya? Sesederhana saya menyadari masa depan yang adalah misteri dan hidup mati saya yang tidak pernah bisa dipastikan, sesederhana itu saya yakin Tuhan ada mengatur segala sesuatunya.

Saya pun menyadari keinginan saya mempercayai bahwa Tuhan itu tidak ada semata-mata untuk memudahkan hidup saya sendiri. Jika Tuhan tidak ada, maka saya tidak harus mendengarkan apa maunya Tuhan, maka saya bisa hidup sebagaimana saya mau. Jika Tuhan tidak ada, maka kematian manusia adalah akhir tanpa ada apa-apa lagi, maka dalam hidup yang terbatas nikmatilah segala kesenangan yang ada selagi memungkinkan. Jika Tuhan tidak ada, tidak ada otoritas di atas saya, dan kebebasan itu sungguh menggoda.

Beberapa mungkin meyakini adanya kekuatan lain di luar kehidupan di muka bumi ini, tetapi mereka enggan menyebutnya Tuhan. Hanya sebuah kekuatan yang mengatur seluruh eksistensi alam raya dan isinya, namun tidak jelas identitasnya. Buat saya, lebih mudah melabeli itu dengan sebutan Tuhan. Dengan adanya nama, maka saya bisa mengenaliNya, maka saya bisa menjalin hubungan denganNya. Hubungan yang dekat membawa pada pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan *walaupun bukan berarti saya bisa menjelaskan segala hal yang menjadi pertanyaan di dunia ini*; pemahaman membawa hidup saya masuk dalam sebuah kerangka aturannya Tuhan. Mungkin *lagi-lagi ini cuma analisa saya yang suka-suka*, dengan tidak memberikan pengenalan mendalam pada kekuatan di luar eksistensi manusia membuat kita lebih mudah menjalani hidup yang lagi-lagi kembali pada hidup suka-suka.

Percaya akan eksistensi Tuhan tidak lantas membuat saya menjadi manusia superior karena pada hakikatnya saya adalah manusia biasa yang kerapkali masih hidup dalam kesalahan. Namun ketika saya tahu Tuhan itu ada, saya belajar melakukan yang terbaik dan mengikhlaskan *sungguh ini pembelajaran terberat* karena saya tahu Dia ada dan turut bekerja dalam kehidupan ini. 

Bagaimanapun, cara kita memandang mengenai Tuhan merupakan kebebasan pribadi setiap manusia. Tidak ada yang berhak memaksakan karena toh Tuhan sendiri tidak pernah memaksa saya untuk percaya padaNya.




Wednesday, April 9, 2014

Tentang Begadang

Pertanyaan: Apakah Anda suka begadang?
Jawaban : Tentu tidak, saya manusia di bawah jam 12 malam.

Bagi orang-orang yang mengenal saya tentu cukup tahun bahwa saya memiliki jam tidur yang panjang dan jam terjaga yang relatif singkat. Saya selalu mengatakan bahwa pukul 9 malam adalah jam tidur saya. Terdengar seperti anak SD ya? Apalagi jika dibandingkan dengan rata-rata teman-teman saya yang biasanya tertidur paling cepat pukul 11 malam. Lantas apakah tidur cepat membuat saya bisa bangun lebih pagi dari yang lain? Tidak juga sih, saya tetap bangun pagi di sekitar pukul 6 atau setengah 7, relatif samalah dengan teman-teman yang lain. 

Beberapa ada yang mengatakan pola tidur saya ini karena kebiasaan sejak kecil. Namun jika ditelaah sebenarnya tidak juga sih, saya termasuk hobi begadang di masa-masa kuliah. Tidak jelas juga apa yang dilakukan, dari berkelana di dunia maya, melahap buku-buku *fiksi ya, bukan buku materi kuliah* yang menarik, menonton film, hingga merenungkan ketidakjelasan segala sesuatu *gayanya seperti filsuf saja*. Tapi semua itu bisa dilakukan tanpa beban, karena kita semua tahulah betapa longgarnya jadwal kuliah itu *atau hanya jadwal kuliah saja yang longgar?*. Rata-rata kelas yang saya hadiri di atas jam 8 pagi, jikapun sampai ada kelas pagi dan terlalu malas bangun sudah pasti meminta bantuan teman untuk menyelamatkan hal-hal tertentu di dalam kelas *semoga anda tahu apa maksudnya ini*.

Saya teringat beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, seorang teman memberitahu saya dampak negatif dari begadang. Mungkin saat itu dia prihatin dengan hobi saya. Intinya, begadang dapat menyebabkan kerusakan otak dan memperpendek umur *mungkin ini dampak kerusakan otak atau kurang fungsi otak yang bisa menyebabkan kecelakaan ketika sedang terjaga*. Tetapi apapun itu, bukan isu kesehatan ini yang menggerakkan saya untuk tidak begadang.

Setelah saya perhatikan sebenarnya pola tidur saya itu erat kaitannya dengan jadwal saya di esok hari. Ya, jika esok memang diharuskan untuk beraktivitas awal, untuk apa saya menghabiskan malam dengan begadang? Jadi selama weekdays anda akan jarang sekali menemukan saya terjaga di atas jam 9 malam *jam 10 maksimal*. Namun jika ternyata esok hari saya tidak punya agenda apapun, i dont mind to strecth my schedule a lil bit. Dan pada saat-saat tertentu ketika berkumpul dengan teman-teman, saya sungguh tidak berkeberatan jika memang aktivitas ketika tidak tidur itu lebih menarik daripada menghabiskan waktu untuk tidur. Walaupun esok harinya sudah bisa dipastikan sedikit melayang dan semakin siang jadi mengantuk hebat. Memang ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesenangan.

Salah satu hal yang agak sulit untuk saya mengerti adalah orang-orang yang sulit tidur setiap harinya *insomnia*. Saya memiliki beberapa teman yang demikian, mereka rata-rata masih terjaga di atas jam 12 malam walaupun esoknya harus bangun pagi dan berujung pada waktu tidur yang hanya 2-3 jam. Mengerikan! Tidak, tidak, saya tidak mengatakan itu sesuatu yang buruk yang untuk dilakukan *walaupun mungkin memang buruk bila mengacu pada bahaya begadang*; namun yang coba saya sampaikan di sini adalah bagaimana bisa ada orang tidak bisa tidur sementara tidur itu begitu mudah *eh, itu bagi saya ya*.

Yah, saya rasa ini adalah salah satu hal yang patut saya syukuri ketika Tuhan masih memberi kemudahan bagi saya untuk tidur. Mungkin terdengar sepele, namun percayalah bahwa tidur itu bisa menjadi anugerah luar biasa bagi beberapa orang di luar sana. Terlebih lagi ketika saya diberi fleksibilitas untuk menentukan apakah malam ini akan tidur normal versi saya  *sekitar 8 jam plus plus sehari* atau begadang, sungguh itu adalah anugerah.

Selamat tidur!


Tuesday, April 8, 2014

Tentang Pemilu Legislatif

Pertanyaan: Siapakah yang akan Anda pilih di pemilu legislatif 2014?
Jawaban : Tidak tahu, saya bahkan tidak akan berpartisipasi dalam pemilu nanti.

Pemerintah memang sudah menetapkan tanggal 9 April 2014 sebagai hari libur nasional dengan tujuan agar seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemilu legislatif. Sejujurnya, sampai beberapa hari yang lalu saya bahkan masih belum mengerti apa itu pemilu legislatif. Namun berdasarkan informasi dari beberapa rekan, bisa disimpulkan bahwa hasil pemilu ini akan menentukan siapa sajakah yang berhak menjadi calon presiden pada pemilu presiden di bulan Juli 2014 mendatang. 

Ya, sesungguhnya pemilu legislatif ini penting untuk mengurangi pilihan di saat pemilihan presiden kelak. Saat ini sudah santer terdengar berbagai sosok, dari yang menurut saya gila sampai waras, yang berlomba-lomba memantaskan dirinya sebagai presiden Indonesia periode 2014-2019. Jika semua diizinkan untuk berkompetisi saat pemilu presiden, kertas suaranya akan terlalu lebar atau malah fotonya terlalu kecil sampai-sampai pemilih tidak bisa membedakan ini siapa dan itu siapa *agak berlebihan memang*. Lantas mengapa saya tidak berpartisipasi?

Pertama, saya bingung dengan pemerintah kenapa pemilu diadakan di tengah minggu begini (hari Rabu). Walaupun dicanangkan sebagai hari libur nasional, tapi kan sulit juga untuk kembali ke tempat KTP asal bagi manusia perantauan seperti saya. Belum lagi ongkosnya mahal lho. Seandainya diadakan di hari Jumat atau Senin, tentulah akan lebih menyenangkan sekaligus menikmati long weekend.

Kedua, saya bingung apakah saya bisa memilih di daerah saya berada saat ini dan bukan di daerah asal. Tapi seharusnya sih tidak bisa ya, soalnya kan saya tidak terdaftar sebagai warga sini. Dan lagi saya terlalu apatis untuk mencari tahu bagaimana prosedur supaya bisa memilih di daerah perantauan ini.

Ketiga, saya bingung mau pilih siapa. Sebenarnya ini berakar dari krisis kepercayaan saya yang mendalam terhadap pemerintah dan dunia politik. Semua berkampanye, calon begitu banyak, semua mau jadi caleg, namun hanya sedikit yang mengerti apa tugas dan tanggungjawab sebagai caleg. Menyedihkan, dalam bayangan saya caleg-caleg tanpa kompetensi ini ujung-ujungnya hanya akan tidur di sidang-sidang yang mereka ikuti, sebagian lagi sibuk menggelapkan uang rakyat, sebagian lagi akan mendadak tenar karena adegan mesum sembunyi-sembunyi yang ketahuan ataupun karena komentar bodoh di depan media massa menunjukkan betapa mengenaskannya pemahaman mereka tentang isu-isu di masyarakat. Yah, sebagian lagi memang akan sungguh-sungguh memperjuangkan hak rakyat, namun kinerja minoritas ini tertutupi oleh kelakuan ajaib mayoritas. Maafkan, saya mungkin terlalu skeptis. Tapi sungguh saya trauma menyaksikan tayangan Mata Najwa episode Farhat Abas dan terlalu shock mendengar Rhoma Irama mau ikutan nyapres *memang ini adalah hak setiap WNI, sebagaiman hak saya juga untuk tertegun menyaksikan dagelan politik di Indonesia ini*.

Keempat, saya sudah tau siapa yang akan jadi capres. Ha! Ya, saya bukan cenayang, tapi arah angin politik ke mana kan sudah terlihatlah. Kalaupun meleset setidaknya dari beberapa capres nanti ada satulah yang bisa saya pilih, kecuali capresnya Abang Rhoma vs Om Bakri *maaf sebut merk ya*. Oh tidak, saya batal milih lagi saja kalo gitu.

Bagi para pemilih yang akan berkontribusi esok hari, semoga mendapat pencerahan. Bagi para caleg yang terpilih, semoga akal sehat dan hati nuraninya bisa dipakai. Bagi yang tidak terpilih, semoga tidak menjadi depresi lantas hilang akal. 

Indonesia, selamat memilih!