Friday, April 11, 2014

Tentang Eksistensi Tuhan

Pertanyaan: Apakah Anda percaya adanya Tuhan?
Jawaban: Ya, saya percaya Tuhan itu ada.

Pemikiran manusia yang semakin kompleks dan rasa ingin tahu yang semakin mendalam membuat banyak orang mempertanyakan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab tak jarang membuat orang kehilangan kepercayaannya pada eksistensi Tuhan. Jika Tuhan ada, mengapa dibiarkan segala ketidakadilan dan kejahatan di dalam dunia? Jika Tuhan ada, mengapa segala bencana dibiarkan terjadi? Jika Tuhan ada, mengapa kehidupan di dunia ini begitu kacau? Tuhan tidak ada, jika pun ada Dia tidak peduli, jika pun peduli Dia sudah tidak sanggup lagi, jika tidak sanggup lagi jelas Dia bukan Tuhan.

Perjalanan hidup saya tidak selalu diwarnai keyakinan yang teguh akan keberadaan Tuhan. Ada masa-masa di mana saya juga mempertanyakan eksistensiNya. Namun pada akhirnya saya tidak pernah bisa menerima konsep tentang tidak adanya Tuhan karena sesederhana saya mengarahkan pandangan pada langit dan bumi, pada bulan dan bintang, dan segala makhluk yang hidup, sesederhana itu juga saya meyakini Tuhan itu ada. Sepengetahuan saya *yang sungguh terbatas memang*, tidak ada manusia yang dapat menciptakan manusia. Memang ada teknologi bayi tabung, namun toh asalnya dari sel telur dan sperma manusia juga. Memang saya pernah mendengar teknologi kloning, tapi apakah ada hasil nyata manusia hasil kloning yang mampu hidup seperti manusia pada umumnya? Sesederhana saya menyadari masa depan yang adalah misteri dan hidup mati saya yang tidak pernah bisa dipastikan, sesederhana itu saya yakin Tuhan ada mengatur segala sesuatunya.

Saya pun menyadari keinginan saya mempercayai bahwa Tuhan itu tidak ada semata-mata untuk memudahkan hidup saya sendiri. Jika Tuhan tidak ada, maka saya tidak harus mendengarkan apa maunya Tuhan, maka saya bisa hidup sebagaimana saya mau. Jika Tuhan tidak ada, maka kematian manusia adalah akhir tanpa ada apa-apa lagi, maka dalam hidup yang terbatas nikmatilah segala kesenangan yang ada selagi memungkinkan. Jika Tuhan tidak ada, tidak ada otoritas di atas saya, dan kebebasan itu sungguh menggoda.

Beberapa mungkin meyakini adanya kekuatan lain di luar kehidupan di muka bumi ini, tetapi mereka enggan menyebutnya Tuhan. Hanya sebuah kekuatan yang mengatur seluruh eksistensi alam raya dan isinya, namun tidak jelas identitasnya. Buat saya, lebih mudah melabeli itu dengan sebutan Tuhan. Dengan adanya nama, maka saya bisa mengenaliNya, maka saya bisa menjalin hubungan denganNya. Hubungan yang dekat membawa pada pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan *walaupun bukan berarti saya bisa menjelaskan segala hal yang menjadi pertanyaan di dunia ini*; pemahaman membawa hidup saya masuk dalam sebuah kerangka aturannya Tuhan. Mungkin *lagi-lagi ini cuma analisa saya yang suka-suka*, dengan tidak memberikan pengenalan mendalam pada kekuatan di luar eksistensi manusia membuat kita lebih mudah menjalani hidup yang lagi-lagi kembali pada hidup suka-suka.

Percaya akan eksistensi Tuhan tidak lantas membuat saya menjadi manusia superior karena pada hakikatnya saya adalah manusia biasa yang kerapkali masih hidup dalam kesalahan. Namun ketika saya tahu Tuhan itu ada, saya belajar melakukan yang terbaik dan mengikhlaskan *sungguh ini pembelajaran terberat* karena saya tahu Dia ada dan turut bekerja dalam kehidupan ini. 

Bagaimanapun, cara kita memandang mengenai Tuhan merupakan kebebasan pribadi setiap manusia. Tidak ada yang berhak memaksakan karena toh Tuhan sendiri tidak pernah memaksa saya untuk percaya padaNya.




No comments:

Post a Comment