Pertanyaan: Apakah Anda suka telur?
Jawaban: Suka sekali.
Saya ini pecinta telur, dari telur ayam, telur bebek dan telur puyuh. Kalau yang agak aneh seperti telur pitan, rasa-rasanya masih belum sanggup menelannya. Menurut saya, makanan apapun enak kalau pakai telur. Nasi goreng telur, indomie telur, nasi + telur dadar/ceplok/orak-arik, bubur ditambah telur *sounds like jenis-jenis makanan yang affordable buat anak kos*. Yah, pokoknya dulu itu saya bisa makan telur banyak kali dalam sehari.
Namun ketika hasil cek lab mengindikasikan kadar kolestrol saya agak tinggi, saya mulai mengatur konsumsi telur, terutama telur puyuh yang katanya kadar kolestrolnya berlipat-lipat dibanding telur biasa. Ya, kalau dulu bisa makan berbutir-butir, sekarang 1-2 butir ajalah. Soalnya saya itu tidak terlalu rajin olahraga, apa jadinya kalau makan dihajar namun olahraga seadanya. Begini-begini saya masih memikirkan kesehatan jiwa dan raga *talk to the hand*.
Anyway, saya masih kesulitan kalau untuk sungguh-sungguh berhenti makan telur. Beberapa bilang makan saja putih telurnya karena yang kadar kolestrolnya tinggi itu kuning telurnya *yeah right, yang enak itu kan kuningnya*.
Oh, beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel bahwa telur itu adalah menstruasinya ayam karena tidak dibuahi lantas tidak menjadi anak ayam dan keluarlah dalam wujud telur itu. Saya lupa membaca artikel itu di mana, namun saya sempat jijik dan tidak makan telur beberapa waktu. But I love it too much to stop eating it forever. Jadi setelah beberapa hari berselang, saya mulai mengkonsumsi telur lagi.
Nah, saya juga baru tahu kalau rice cooker itu ternyata bisa digunakan untuk masak telur dadar atau telur ceplok. Jadi beberapa waktu yang lalu saya terdorong oleh desakan ekonomi dan mulai berpikir cara untuk makan murah setiap harinya. Mengingat di kosan saya hanya ada rice cooker dan mau beli kompor listrik koq rasanya mahal, jadilah saya harus berhemat dengan sumber daya yang ada. Ternyata hasil googling memberi informasi cara memasak telur dengan rice cooker. Use butter instead of oil. Ya, tapi hasil telurnya sih agak beda wujudnya dengan hasil masakan kompor gas. But it's still yummy and cheap.
Begitulah kira-kira kisah telur dalam kehidupan saya. Dan maafkan, posting-an ini agak meaningless sepertinya.
No comments:
Post a Comment