Saturday, August 16, 2014

Tentang Cinta dan Logika

Pertanyaan: Manakah yang menurut Anda lebih penting, cinta atau logika?
Jawaban: I want both.

Saya baru selesai membaca sebuah novel yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang tidak percaya akan adanya cinta. Dalam cerita itu si perempuan memilih seorang laki-laki karena dia merasa ada hubungan yang dewasa di antara mereka, yang saling mengerti dan menghargai, tapi tidak ada cinta, setidaknya dari sisi si perempuan. Lebih lanjut lagi dikisahkan ada sosok laki-laki lain yang menimbulkan getar-getar aneh *let's say butterfly in her stomach* sejak si perempuan pertama kali bertemu dengannya. Ending-nya? Baca saja sendiri ya.

Anyway, saya mungkin agak hopeless romantic ya, saya masih percaya pentingnya butterfly in my stomach itu. Bukan berarti itu faktor utama dalam sebuah hubungan, namun koq rasanya tanpa itu akan terasa datar. Saya meyakini jatuh cinta ini somehow akan bikin perasaan campur aduk, ada yang bilang deg-degan, ada yang bilang up and down, ada yang bilang bisa bikin senyum-senyum sendiri, labil dan kadang memang gag rasional. Oh, saya percaya itu!

Tetapi Tuhan menciptakan manusia dengan akal budi dan perasaan, tidak hanya salah satu tapi keduanya. Saya juga percaya bahwa dalam cinta, logika itu penting. Jujur sajalah, saya sih tidak bisa hidup hanya makan cinta. Apakah sebuah hubungan patut dipertahankan karena cinta walaupun pasangan Anda suka melakukan kekerasan? Apakah sebuah hubungan layak diperjuangkan karena cinta walaupun pasangan Anda pemalas, tukang mabuk, tukang judi, dan tidak peduli mencari nafkah? Apakah sebuah hubungan perlu dijaga mati-matian jika pasangan Anda tidak mampu berkomitmen dengan Anda *baca: tukang selingkuh, suka tebar pesona, gag ada tanda-tanda siap menjajaki hubungan yang lebih serius, etc*? Apakah demi butterfly in your stomach Anda rela menjalani kehidupan yang seperti saya sebutkan tadi? I don't.

Merasakan cinta itu baik, toh bosan juga kan kalau hidup itu datar-datar saja *lately that's happening in my life*. Tetapi jangan matikan otak Anda, jangan sampai atas nama cinta Anda jadi tidak bisa berpikir lagi. Saya sedang membicarakan hubungan bagi mereka yang belum menikah khususnya. Kalau yang sudah menikah ya mau bilang apa, Anda sudah memilih dan berkomitmen. Tetapi ketika Anda belum menikah, Anda punya kesempatan untuk mengkaji semuanya. 

Jatuh cinta itu penting, ketika hal-hal terasa buram Anda mungkin bisa mengingat manisnya perasaan itu. Cinta itu memampukan orang untuk melakukan banyak hal yang terkadang akal sehat tidak mampu, cinta membuat seseorang mampu memaafkan *karena jujur saja sih ada saatnya pasangan Anda akan melakukan kesalahan dan Anda perlu memaafkan*, cinta membuat seseorang bisa memaklumi, cinta bisa membuat seseorang bertahan. Ya, itu penting! Tetapi pastikanlah bahwa apa yang Anda cintai memang layak untuk dicintai, bukan sosok yang memanfaatkan, menginjak-injak, lebih parah tidak mencintai Anda kembali. Di sinilah Anda perlu mengunakan otak Anda, jangan membutakan diri karena alasan "saya sudah cinta sih". Remember, we are talking about a life time commitment here.

Hmmpphh..tapi kalau dipikir-pikir lagi ya, saya kan jomblo yang hopeless romantic. What do I know about love? Haha! 

Love & Peace!

Tentang Weekend Ideal

Pertanyaan: Bagaimana weekend Anda kali ini?
Jawaban: Love it!

Weekend ideal ini versi saya pribadi lho dan sangat mungkin banyak orang tidak sependapat. Saya menulis ini real time, namun demi keamanan maka lokasi akan dirahasikan *haha..berasa penting*. Anwyay, tipe weekend ideal saya, yang notabene adalah jomblo, terdiri dari books, movie, foods, and a lot of me time *preferably a quiet one*. And i am having all of them right now! Yeah, i love it!

Buku, saya suka membaca tetapi bukan bacaan yang berat-berat. Buat saya banyak persoalan lain dalam hidup ini yang sudah menguras otak saya *maksudnya: kerjaan*, jadi saya memilih membaca untuk hiburan. Novel dan komik itu the best, walaupun kalau komik koq rasanya ketipisan dan terlalu cepat tamat. Maaf ya, saya gag mampu kalau disuruh membaca buku yang memerlukan pemikiran, that hurts my brain, most of the time.

Film, paling asyik sih kalau lagi ada film baru dan bisa nonton dengan memanfaatkan buy one get one free *sungguh berasa iritnya lho*. Ya, tapi kan cari teman nonton itu gag selalu mudah, saya termasuk golongan orang yang tidak berkeberatan menonton sendiri di bioskop. After all, i should focus on the movie, not the person who is with me. Walaupun saya juga gag berkeberatan kalau harus nonton beramai-ramai. Tapi kalau sedang tidak ada film bagus atau tidak ada uang tepatnya *eh, curcol*, menonton film seri barat *bukan Korea lho, bukan!* hasil download-an di dunia maya pun cukup ideal.

Makanan, ini bisa diartikan menyediakan makanan untuk dihabiskan sambil membaca/nonton atau melakukan wisata kuliner. Walaupun namanya wisata kuliner bukan berarti saya akan mencoba jenis makanan yang tidak lazim, yang lazim saja saya banyak yang gag doyan *pemilih makanan*. Namun untuk poin ketiga ini harus disikapi dengan bijak karena sesungguhnya akan sangat berbahaya bagi kondisi berat badan.

Me time, this is why i love weekend because i have no obligations to fulfill. Saya gag harus bangun pagi, gag harus ke kantor, gag harus beramah-ramah dengan orang, gag harus membatasi jam makan siang selama satu jam, basically I love it because I can do whatever I want to. Kadang me time bisa digunakan untuk ke salon *jarang sih*, refleksi *love it*, belanja *yeah right*, etc etc. Semenjak jadi anak kos lagi, me time-nya ditambahin buat nyapu dan ngepel, ganti sprei, bersihin kamar mandi, cuci baju, capek!

But, this weekend is kinda special because finally I have my ideal me time *a quiet one*, setelah beberapa weekend terakhir diramaikan oleh banyak orang *not that I am complaining*. Jadi hari ini saya memutuskan pergi ke suatu tempat, menghabiskan sepanjang hari berteman dengan novel-novel yang mostly roman picisan *sebenarnya saya masih gag mengerti apa sih maksudnya* sambil memandangi pemandangan kota, diselingi dengan sederetan film seri, blogging, dan makan. What a day! Semuanya itu saya lakukan dalam ketenangan, tidak di tengah-tengah hiruk pikuk orang yang biasanya banyak ditemukan di mall atau area wisata di saat weekend. No no, this time I will totally give all the time for myself. 

Bye! Gotta get back to myself.