Friday, November 18, 2016

Politik di Kantor

Jadi setelah setahun lebih vakum dari dunia blogging ini, tiba-tiba saya merasakan desakan yang sangat kuat untuk menulis kembali, kali ini tentang satu topik yang sedang hangat di hidup saya -bukan, bukan Ahok-. Mungkin untuk Ahok akan dituliskan di kemudian hari kali ya, atau tidak sama sekali -tergantung mood-

Pertanyaan: Gimana sih rasanya kalau teman (bukan teman biasa, mungkin lebih ke sohib) yang tadinya kerja bareng-bareng, ngeluh bareng-bareng, gosipin orang bareng-bareng, tiba-tiba jadi bos Anda?
Jawaban: Biasa aja sih.

Oh, are you sure??? Mungkin sebagian akan berpendapat kalau hal tersebut tidak masalah bagi mereka "Hey, saya kan kaum profesional. Teman yang teman, kerjaan ya kerjaan. Bentrok dalam pekerjaan tidak berarti harus bentrok dalam pertemanan kan". Wah, two thumbs up buat Anda yang menjawab demikian!

Mungkin sebagian berkata,"Haduh, jadi gag asyik kayaknya ya. Dulu kan bisa sama-sama menggosipkan Si Bos, sekarang kan gag mungkin lagi karena dia bosnya". Buat Anda yang merasa seperti ini, tidak ada yang salah. Reaksi Anda manusiawi, karena gosip itu kan bagian dari kehidupan kantor.

Lalu bisa jadi ada yang menjawab,"Ya, semua tergantung dia sih. Kalau dianya asyik saja dan gag mendadak jadi bossy, no problemo. Selama dia juga gag jadi manusia bermuka dua yang haus kekuasaan".

Anyway, kalau buat saya pribadi, saya termasuk golongan yang ketiga. Ingat, saya golongan nomor tiga dalam konteks pembahasan ini, kalau pembahasan lain sih saya pilih nomor dua Ahok/Djarot-eh, malah kampanye-.  

Artinya, dalam pertemanan kita tidak ada yang harus berubah, saya masih mau gila-gilaan dan sharing sama dia tanpa harus berpikir apakah ini  akan berefek ke masa depan saya di kantor tersebut atau tidak. Sebagai gantinya, saya akan berusaha agar seluruh pekerjaan saya dapat dikerjakan dengan baik. Bila pada suatu saat ada permasalahan yang terjadi di dalam pekerjaan, saya berharap dia akan ada sebagai sohib saya dan bukan bos saya. Nah kan, kelihatan saya tidak profesional-kalau dibaca head hunter gag akan pernah direkruit nih-.

Saya tidak suka konflik, apalagi dengan sohib sendiri.  Permasalahannya dengan dunia kantor adalah, dia harus melakukan apa yang harus dilakukan karena ada tekanan dan tanggungjawab untuknya, dan saya harus melakukan apa yang saya lakukan karena ada tekanan dan tanggungjawab untuk saya. Oleh karenanya, saya gag suka kerja bareng sohib di tempat yang sama dengan posisi yang memiliki konflik kepentingan, entah dalam kategori atasan-bawahan atau antar divisi.

Call me immature, i knew that already before you say it anyway. Ketika semua baik-baik saja dan kerjasama terjalin tentu tidak akan ada masalah. Namun ketika tiba pada satu titik permasalahan di mana kepentingan saya dan kepentingan dia dipertaruhkan, saya tidak siap untuk mendapati kenyataan bahwa salah satu di antara kami akan saling menyalahkan atau mengorbankan karena hal ini. 

Mungkin beberapa akan berkata, kalau sohib sih gag akan begitulah, pasti akan tetap saling membantu. Di dalam realita kehidupan ini, ketika kepentingan seseorang terancam, instingnya akan mendorong dia untuk memperjuangkan kepentingannya. Itu saja sudah sulit untuk dilawan, apalagi ditambah tekanan dari pihak luar (dalam hal ini pihak lain di kantor ataupun peraturan/kepentingan kantor).

Bagi saya, pertemanan bertahun-tahun terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena urusan pekerjaan. Di luar sana masih banyak pekerjaan lain, ketimbang harus satu kantor dengan sohib sendiri yang berada di posisi memiliki konflik kepentingan. Untungnya tidak banyak manusia yang saya anggap sebagai sohib di dunia ini, sehingga tidak terlalu pusinglah saya akan resiko sekantor dengan mereka.

Salam dua jari! 😏