Jawaban: Hmmpphh...banyak?
Ya banyak! Seratus ribu rupiah bisa jadi uang makan saya untuk 2 hari *walaupun sering lewat budget* atau biaya sekali nongkrong di kafe yang kekinian itu *dengan catatan makannya gag khilaf* atau biaya transport saya dari Bandung-Tangerang *itu pun masih nombok 15 ribu* atau setara dengan nominal pulsa internet saya sebulan *ah, itu pun kurang*. Ternyata semakin saya pikirkan, 100 ribu rupiah tidak memberi arti yang signifikan bagi saya,
Saya bukan konglomerat yang mungkin dengan duduk santai di rumah penghasilan mengalir ke rekening, bukan juga tukang sihir yang tinggal simsalabim kalau perlu uang lalu voila...muncullah uang di meja. Saya masih manusia biasa yang kerja kantoran dari 8 pagi - 5 sore dan seringkali merasa kalau si gaji itu kerjanya memang cuma numpang lewat saja. Tapi ya itu tadi, saya akui saya kerap kali meremehkan nilai selembar 100 ribu rupiah
Beberapa waktu yang lalu saya sempat browsing tentang menjadi orang tua asuh, dan dari sana saya belajar bahwa masih sangat banyak anak di luar sana yang putus sekolah karena tidak ada biaya pendidikan. Yang agak menampar saya, ternyata donasi yang dibutuhkan oleh mereka *yang duduk di bangku TK-SD* hanya 100 ribu rupiah/bulan/anak untuk tetap dapat sekolah.
Dan saya seperti diingatkan akan apa yang sudah saya lakukan selama ini dengan selembar uang merah bergambar Soekarno Hatta tersebut. Sungguh tidak ada ruginya memotong anggaran sekali kongkow cantik untuk dialokasikan kepada mereka yang memang membutuhkan. Ketika apa yang kita miliki tidak semata-mata ada untuk memuaskan keinginan diri sendiri, semoga dunia akan menjadi lebih indah.
Jika Anda berminat untuk mengetahui tentang orang tua asuh lebih lanjut, mungkin bisa di check it out di sini.