Wednesday, June 10, 2015

Tentang Seratus Ribu Rupiah

Pertanyaan: Apa arti 100 ribu rupiah bagi Anda?
Jawaban: Hmmpphh...banyak?

Ya banyak! Seratus ribu rupiah bisa jadi uang makan saya untuk 2 hari *walaupun sering lewat budget* atau biaya sekali nongkrong di kafe yang kekinian itu *dengan catatan makannya gag khilaf* atau biaya transport saya dari Bandung-Tangerang *itu pun masih nombok 15 ribu* atau setara dengan nominal pulsa internet saya sebulan *ah, itu pun kurang*. Ternyata semakin saya pikirkan, 100 ribu rupiah tidak memberi arti yang signifikan bagi saya,

Saya bukan konglomerat yang mungkin dengan duduk santai di rumah penghasilan mengalir ke rekening, bukan juga tukang sihir yang tinggal simsalabim kalau perlu uang lalu voila...muncullah uang di meja. Saya masih manusia biasa yang kerja kantoran dari 8 pagi - 5 sore dan seringkali merasa kalau si gaji itu kerjanya memang cuma numpang lewat saja. Tapi ya itu tadi, saya akui saya kerap kali meremehkan nilai selembar 100 ribu rupiah

Beberapa waktu yang lalu saya sempat browsing tentang menjadi orang tua asuh, dan dari sana saya belajar bahwa masih sangat banyak anak di luar sana yang putus sekolah karena tidak ada biaya pendidikan. Yang agak menampar saya, ternyata donasi yang dibutuhkan oleh mereka *yang duduk di bangku TK-SD* hanya 100 ribu rupiah/bulan/anak untuk tetap dapat sekolah. 

Dan saya seperti diingatkan akan apa yang sudah saya lakukan selama ini dengan selembar uang merah bergambar Soekarno Hatta tersebut. Sungguh tidak ada ruginya memotong anggaran sekali kongkow cantik untuk dialokasikan kepada mereka yang memang membutuhkan. Ketika apa yang kita miliki tidak semata-mata ada untuk memuaskan keinginan diri sendiri, semoga dunia akan menjadi lebih indah.

Jika Anda berminat untuk mengetahui tentang orang tua asuh lebih lanjut, mungkin bisa di check it out di sini.

Tuesday, April 21, 2015

Tentang Menghargai Waktu

Beberapa bulan yang lalu nenek saya meninggal dunia, di usia 80 tahun lebih. Nenek saya itu kurus, tidak banyak makan dan tidak banyak bicara,sudah beberapa tahun menggunakan kursi roda, namun tidak mengidap penyakit yang mematikan. 

Dia tinggal di kota yang berbeda dengan saya, kami bertemu di saat-saat momen tertentu saja, itu pun saya tidak pernah terlalu banyak bicara dengannya. Bukan saya membencinya atau bagaimana, saya hanya bingung apa yang harus dibicarakan.

Momen terakhir saya dengannya ketika keluarga besar kami berkumpul saat tahun baru imlek yang lalu. Sebenarnya saya nyaris tidak hadir di acara itu karena persoalan cuti, namun entah bagaimana kendala tersebut terselesaikan dan beruntunglah saya dapat menjadi bagian dari kenangan yang baik ketika nenek saya masih hidup.

Saya memang sedikit terkejut ketika mendapatkan kabar nenek saya meninggal, walaupun pada satu titik saya tahu dia sudah tua dan saatnya akan tiba. Ketika imlek saya merasa saatnya tidak akan lama lagi, saya sudah tahu dan saya pun mempersiapkan diri. Saya datang ke pemakaman nenek saya, menguburkan dengan layak, bahkan saya melihat jenazahnya untuk terakhir kali, satu hal yang sebenarnya sangat saya hindari ketika datang ke pemakaman lain.

========================================================================

Beberapa (belas) tahun yang lalu sahabat saya meninggal dunia di usia 15 tahun. Kami baru saja lulus SMP. Dia tetangga saya, tepat sebelah rumah, setiap hari bertemu dan kami pun satu sekolah. 

Momen terakhir saya dengannya beberapa hari menjelang berakhirnya hari-hari kami di SMP tersebut, dia banyak termenung dan menyendiri. Saya menganggap dia membetekan sekali saat itu dan membuat saya malas ngomong sama dia. Sebelum saya berangkat ke tempat nenek saya untuk liburan, saya bertemu dia di depan pintu rumahnya.

Di tengah liburan masa lulus SMP, ketika saya sedang berlibur ke tempat nenek saya tersebut, saya dikabari bahwa dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Saya terkejut, sangat. Bahkan saya masih ingat ketika mendapatkan kabar tersebut rasanya pikiran saya mati dan membuat saya jadi sangat bodoh. 

Saya tidak siap, saya tidak terima, saya marah dan saya menyangkal .Saya tidak datang ke pemakamannya waktu itu, berharap dengan tidak melihatnya dikuburkan somehow saya bisa berharap dia masih hidup di suatu tempat. Namun seiring berjalannya waktu (yang cukup panjang), pada akhirnya saya berdamai dengan kenyataan.

========================================================================

Beberapa orang mengatakan bahwa karena saya memang tidak terlalu dekat dengan nenek saya, maka wajar kesedihan saya ketika ditinggalkan tidaklah mendalam. Lagipula toh nenek saya sudah tua, sehingga ya kematian itu tidak terlalu mengejutkan buat saya. Ketika sejak awal saya sudah bisa berdamai dengan kenyataan, maka akan lebih mudah bagi saya untuk mengikhlaskannya. Lagipula toh kenangan terakhir saya dan nenek saya cukup bahagia.

Semua itu berbalik 180 derajat dengan yang terjadi antara saya dan sahabat saya belasan tahun yang lalu. Saya tidak siap, saya melarikan diri, dan akhirnya saya tenggelam dalam penyesalan yang mendalam sampai bertahun-tahun.

Mungkin saja semua itu benar, tetapi siapakah yang dapat mengubah masa lalu. Saya hanya belajar bahwa kematian adalah rahasia Tuhan. Tidak ada manusia yang benar-benar siap ditinggal mati oleh orang-orang yang dianggapnya berarti dalam hidupnya. Namun semakin kita menghargai momen-momen kehidupan yang masih diberikan, maka akan semakin mudah bagi kita untuk mengikhlaskan ketika waktunya tiba. Penghiburan kita adalah ketika kita menyadari bahwa kita sudah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bagi orang tersebut ketika dia masih hidup.

Be grateful & spread the love.

Friday, March 27, 2015

About finding love

Question: How do you know she/he is the one?
Answer: I have no idea.

This topic has been in my mind for several years now, and i still can't figure it out. It started when one of my high school friend wanted to get married at relatively young age (okay, some might say that 22/23 is not that young). I didn't understand that time. In my mind it was like: Are you sure? Aren't you supposed to do many more things before getting married? (that doesn't mean you can't do those things after you are married, but still, getting married puts some boundaries for you). I asked her that time: how do you know he is the right one? And she replied: you just know. 

Several years after that, i had an office mate. Let me explain to you her history first, she had a long- term boyfriend at that time (8 or 9 nine years with on and off), she was a lil bit playgirl, maybe because her long-term boyfriend never gave her any commitment or plan for the future whatsoever. 

Anyway, they broke up. I forgot the details, but several months after that, she was introduced to her older sister's friend and somehow they made their way as couple. Less than a year after that, seriously it's only 6 months maybe, i was invited to their wedding. And i was like: whoaaa,,how could you do this? I still don't understand why because i never really asked her, but i assume that after waiting long enough for a commitment that was never given by her old boyfriend, what's the point of putting anything on hold again while you already find a good man who wants to commit? That's just my assumption. And by the way, they look good for each other.

Later on, my friend told me a story about her professor who is gonna get married this August. I know some story about the professor, she is single, smart, independent, not ugly and has so many great experiences in her life. She met her high school friend one day at a mall and that man tried to reach her, and voila... they are getting married soon after a very short time being together. The question is still the same: how does she know it's time to get married and he is the right one? 

Being single and hearing all those kind of stories somehow drives me crazy. Okay, i am a hopeless romantic, i have told you before on another post i think. Although most of my days i try to be logical. I can not understand how someone can be so sure about a very important decision. It's not like you can just end it if your marriage doesn't work well or you find some bad stuffs about your partner along the way. Okay, some might say you can, but still i am a person who doesn't believe in divorce (at least right now).

You only get to know each other on a very short time, how do you know you can accept all good and bad sides in her/him? Now you feel you love him/her and being loved too, but how do you know that will endure? You only get 6 months more or less to be with that person before tying the knot. Everybody can fake so many things in 6 months. Why would you put yourself in a, let's call it restricted area slash marriage, while you are still so young? Why would you give yourself a huge responsibilities by being a wife and mother? I don't get it. This is my brain talking, this is (maybe) me being jealous.

Anyway, the other side of myself -the hopeless romantic- considers all of those as wonderful. Oh right, there was a moment when i felt like i was so ready giving up things if we could make it work (though it didn't work out well after all). There are times when i secretly hope i am gonna meet the one in an unexpected way. Oh, another side of me!

I maybe will not understand why people do what they do. Not now, but someday who knows i am gonna do the same thing. I am not judging anyone here, i believe all the decisions are made with careful thinking and they are happy with it. That's all that matters, you are happy with it. And when the time comes, i hope i can say this too : i just know it.

A hopeless romantic who acts like i am not
-Me-

Saturday, February 14, 2015

Tentang Hukuman Mati

Pertanyaan: Apakah Anda setuju dengan hukuman mati?
Jawaban: Hmmpphh...Tergantung.

Akhir-akhir ini yang sedang marak diberitakan di berbagai media adalah eksekusi mati pengedar narkoba yang dikenal dengan nama Bali Nine. Saya tidak akan menceritakan detail kasusnya karena jujur saya juga baru mengetahui kasus ini karena ramai menjadi pemberitaan belakangan ini, padahal vonis hukuman mati atas para pelaku sudah dijatuhkan sejak beberapa tahun lalu.

Pihak-pihak yang kontra dengan eksekusi ini, terutama dari pemerintah Australia, mengupayakan berbagai cara agar Presiden Jokowi dapat memberi pengampunan kepada kedua pelaku yang akan segera dieksekusi. Alasan mereka, kedua orang ini sudah menyadari kesalahannya dan justru memberikan kontribusi yang besar bagi lembaga pemasyarakatan di mana mereka berada saat ini. Mereka berhak mendapat kesempatan kedua, tidak harus dibebaskan, namun juga tidak perlu dihukum mati.

Sedangkan mereka yang mendukung eksekusi ini mengatakan bahwa sudah sewajarnya pemerintah bertindak tegas karena narkoba sudah merajalela di Indonesia, berapa nyawa yang sudah melayang karenanya. Sudah sepantasnya para pengedar narkoba tersebut mati, titik.

Saya pribadi memandang hukuman mati adalah hal yang masih diperlukan. Ya, memang terdengar kejam dan tidak berperikemanusiaan. Namun memang ada kejahatan-kejahatan di dunia ini yang menurut saya pantas diganjar dengan hukuman mati, seperti: pembunuhan berencana, pemerkosaan, pengedaran narkoba. Tetapi tidak semua pengedar narkoba juga harus dihukum mati, apalagi mereka yang menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki hidupnya dan hidup sesamanya.

Pengedar narkoba yang berbalik dari masa lalunya bagi saya adalah orang yang berhak menerima kesempatan kedua. Namun tidak halnya dengan pelaku pembunuhan berencana dan para pemerkosa. Mengapa saya menerapkan standar ganda seperti ini? 

Menurut opini saya, pelaku kejahatan pembunuhan dan pemerkosaan adalah orang-orang yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, mereka memaksa orang lain menjadi korban mereka. Dengan membunuh dan memperkosa, pada dasarnya mereka memaksakan kehendak mereka kepada orang lain yang sebenarnya tidak mau mengalami nasib tersebut. Kesalahan 100% pada si pelaku. 

Sedangkan para pengedar narkoba, betul mereka merusak generasi muda Indonesia dengan berbagai jenis obat-obatan yang ditawarkan, namun tidak selalu mereka memaksa para generasi muda itu menjadi korban. Dalam beberapa kasus narkoba, para korban memilih untuk menjadi pengguna narkoba, mereka yang mencerburkan diri mereka sendiri dalam penyalahgunaan narkoba, entah karena kurang edukasi, salah pergaulan, atau apapun alasannya. Kesalahan tidak 100% pada si pelaku.

Saya setuju bahwa para pengedar narkoba harus dijatuhi hukuman berat karena bagaimanapun perbuatan mereka menghancurkan hidup banyak orang. Namun sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka jika hidup orang-orang tersebut hancur, itu adalah pilihan mereka sendiri *walaupun mungkin saja ada kasus-kasus yang tidak demikian*. Kita tidak menghukum mati para pengedar rokok dan minuman keras hanya karena mereka menyalurkan barang-barang yang dapat merusak hidup banyak orang kan? Karena kembali lagi, apakah barang-barang berbahaya tersebut mau digunakan atau tidak, itu tergantung pada pribadi masing-masing.

Oleh karena itu saya simpulkan bahwa saya setuju akan adanya hukuman mati karena ada kejahatan-kejahatan yang adalah 100% kesalahan si pelaku. Namun untuk kasus narkoba, khususnya menyangkut eksekusi Bali Nine ini, saya tidak sependapat. Apabila argumen yang diajukan oleh pihak Australia bahwa kedua pelaku Bali Nine sudah berubah dan memberikan kontribusi yang baik bagi lingkungan di mana mereka dipenjarakan adalah benar,maka saya sungguh merasa bahwa mereka berhak atas kesempatan kedua.

Salam Damai!