Beberapa bulan yang lalu nenek saya meninggal dunia, di usia 80 tahun lebih. Nenek saya itu kurus, tidak banyak makan dan tidak banyak bicara,sudah beberapa tahun menggunakan kursi roda, namun tidak mengidap penyakit yang mematikan.
Dia tinggal di kota yang berbeda dengan saya, kami bertemu di saat-saat momen tertentu saja, itu pun saya tidak pernah terlalu banyak bicara dengannya. Bukan saya membencinya atau bagaimana, saya hanya bingung apa yang harus dibicarakan.
Momen terakhir saya dengannya ketika keluarga besar kami berkumpul saat tahun baru imlek yang lalu. Sebenarnya saya nyaris tidak hadir di acara itu karena persoalan cuti, namun entah bagaimana kendala tersebut terselesaikan dan beruntunglah saya dapat menjadi bagian dari kenangan yang baik ketika nenek saya masih hidup.
Saya memang sedikit terkejut ketika mendapatkan kabar nenek saya meninggal, walaupun pada satu titik saya tahu dia sudah tua dan saatnya akan tiba. Ketika imlek saya merasa saatnya tidak akan lama lagi, saya sudah tahu dan saya pun mempersiapkan diri. Saya datang ke pemakaman nenek saya, menguburkan dengan layak, bahkan saya melihat jenazahnya untuk terakhir kali, satu hal yang sebenarnya sangat saya hindari ketika datang ke pemakaman lain.
========================================================================
Beberapa (belas) tahun yang lalu sahabat saya meninggal dunia di usia 15 tahun. Kami baru saja lulus SMP. Dia tetangga saya, tepat sebelah rumah, setiap hari bertemu dan kami pun satu sekolah.
Momen terakhir saya dengannya beberapa hari menjelang berakhirnya hari-hari kami di SMP tersebut, dia banyak termenung dan menyendiri. Saya menganggap dia membetekan sekali saat itu dan membuat saya malas ngomong sama dia. Sebelum saya berangkat ke tempat nenek saya untuk liburan, saya bertemu dia di depan pintu rumahnya.
Di tengah liburan masa lulus SMP, ketika saya sedang berlibur ke tempat nenek saya tersebut, saya dikabari bahwa dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Saya terkejut, sangat. Bahkan saya masih ingat ketika mendapatkan kabar tersebut rasanya pikiran saya mati dan membuat saya jadi sangat bodoh.
Saya tidak siap, saya tidak terima, saya marah dan saya menyangkal .Saya tidak datang ke pemakamannya waktu itu, berharap dengan tidak melihatnya dikuburkan somehow saya bisa berharap dia masih hidup di suatu tempat. Namun seiring berjalannya waktu (yang cukup panjang), pada akhirnya saya berdamai dengan kenyataan.
========================================================================
Beberapa orang mengatakan bahwa karena saya memang tidak terlalu dekat dengan nenek saya, maka wajar kesedihan saya ketika ditinggalkan tidaklah mendalam. Lagipula toh nenek saya sudah tua, sehingga ya kematian itu tidak terlalu mengejutkan buat saya. Ketika sejak awal saya sudah bisa berdamai dengan kenyataan, maka akan lebih mudah bagi saya untuk mengikhlaskannya. Lagipula toh kenangan terakhir saya dan nenek saya cukup bahagia.
Semua itu berbalik 180 derajat dengan yang terjadi antara saya dan sahabat saya belasan tahun yang lalu. Saya tidak siap, saya melarikan diri, dan akhirnya saya tenggelam dalam penyesalan yang mendalam sampai bertahun-tahun.
Mungkin saja semua itu benar, tetapi siapakah yang dapat mengubah masa lalu. Saya hanya belajar bahwa kematian adalah rahasia Tuhan. Tidak ada manusia yang benar-benar siap ditinggal mati oleh orang-orang yang dianggapnya berarti dalam hidupnya. Namun semakin kita menghargai momen-momen kehidupan yang masih diberikan, maka akan semakin mudah bagi kita untuk mengikhlaskan ketika waktunya tiba. Penghiburan kita adalah ketika kita menyadari bahwa kita sudah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bagi orang tersebut ketika dia masih hidup.
Be grateful & spread the love.
No comments:
Post a Comment