Pertanyaan: Bagaimana jika Anda mati muda?
Jawaban: Hah? Apa?!
If i die young, bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song
(http://www.azlyrics.com/lyrics/bandperry/ifidieyoung.html)
Tidak ada yang pernah tahu berapa lama waktu yang dimiliki seseorang di dunia ini. Beberapa menutup usia setelah berjuang dan berpesta *saya percaya hidup ini harus seimbang antara perjuangan dan kesenangan* lebih dari 80 tahun. Beberapa mengakhiri pada usia standar 70-80 tahun. Beberapa lebih muda lagi di usaia 60-70. Terkadang saya merasa sedih jika mendengar usia 60 pun tak bisa dicapai oleh seseorang. Semakin mengejutkan lagi jika mereka di usia 20-an sudah menyelesaikan pertandingan.
Ini bukan soal mana yang lebih baik karena usia adalah rahasia Tuhan. Namun ada kalanya saya ingin protes kepada Tuhan "Why so fast?". Saya punya seorang teman yang cukup dekat dan dia meninggal di usia 14 atau 15 *I am not so sure* karena kecelakaan motor. Right, he was the one who drove the motorcycle. Beberapa hari sebelumnya saya masih sempat mengobrol dan bersenda gurau, to be exact he was my neighbor and also schoolmate, siapa yang menyangka dalam hitungan hari itu juga saya akan mendapat telepon bahwa dia sudah meninggal. It took years for me to make peace with that, but I do eventually.
The point is siapa sih yang bisa jamin besok Anda dan saya masih hidup? Walaupun saya selalu memohon kalau boleh sih mencapai usia 100 tahun, kan masih banyak yang belum saya lakukan dalam kehidupan ini. Permohonan saya juga melebar, kalau boleh meninggalnya jangan karena kecelakaan donk Tuhan, saya seram. Semakin meluas lagi, tapi kalau karena kecelakaan hanya membuat cacat lebih baik meninggal saja deh Tuhan. Here I am, trying to be God's boss. Amazing!
Menyadari bahwa hidup ini adalah waktu yang dipinjamkan, ada baiknya jika dijalani dengan semaksimal mungkin *bagaimanapun definisi Anda akan maksimal itu*, sehingga pada akhirnya tidak ada penyesalan. Bersyukur karena saya sudah melewati usia 25 karena tidak semua orang dapat privilege yang sama, termasuk teman saya itu.
Dan karena kita pun tidak pernah tahu kapan orang-orang di sekitar kita berakhir hidupnya, ada baiknya try our best to leave them on good terms, always. Jangan sampai yang pada akhirnya dikenang adalah makian atau amarah terakhir. That is really not a good memory.
So, if I die young *which I really really really hope not*, bury me in red.
Whatever the rules, the culture, the customs, what is supposed to do or not to do, screw them.
Just bury me in red.
No comments:
Post a Comment