Pertanyaan: Do you have it?
Jawaban: I hope so.
Beberapa orang memang beruntung, memiliki jalinan pertemanan yang tidak putus walaupun telah berpuluh-puluh tahun berjalan. Beberapa yang sangat beruntung bahkan masih bisa berteman sampai maut memisahkan *sounds like wedding vow ya*. Tetapi apakah memang bertahannya sebuah jalinan pertemanan itu karena keberuntungan?
Saya punya beberapa teman *jujur saja jumlah teman saya itu tidak banyak* sejak SMA. Dulu kita ber-delapan, namun seiring berjalannya waktu dan sejuta hal-hal lainnya, semakin sulit *kalau tidak impossible* untuk menyatukan waktu bersama. Things that make it harder are:
Pertama, jadwal hidup yang berubah. Beberapa sudah menikah, beberapa sibuk bekerja, beberapa lainnya sibuk hura-hura *this is me*. Yang sudah menikah disibukkan dengan suami dan anak. Yang sibuk bekerja impossible to disturb on workdays, dan weekend sudah punya schedule sendiri. Yang sibuk hura-hura *like me* ke sana ke sini mencari teman main demi memuaskan hasrat masa muda *sungguh, ini berlebihan*.
Kedua, lokasi tinggal yang variatif. Saya sendiri sudah relokasi ke Bandung demi pekerjaan, ada juga yang relokasi ke Jakarta setelah menikah. Beberapa memang masih berdomisili di Tangerang, bahkan ada yang sekompleks perumahan namun tetap jarang bertemu.
Ketiga, hubungan di antara kami itu aneh, kami memang saling mengenal satu sama lain namun sejujurnya tidak saling terikat semuanya. Keakraban kami tidak merata di antara ber-delapan ini, dan ada orang-orang yang posisinya sebagai jembatan. Jadi kalau orang-orang tertentu itu tidak ada, terkadang sulit menyambungkan bahan perbincangan dan ujung-ujungnya bisa jadi boring.
Keempat, topik pembicaraan yang sudah bergeser. Beberapa hidupnya berpusat pada keluarga, jelas bahan ulasannya adalah anak dan perkembangannya, kadang suami dan pembantu, urusan dapur dan keuangan. Beberapa hidupnya berpusat pada pekerjaan dengan bahan perbincangan tidak jauh-jauh dari urusan kantor. Beberapa hidupnya penuh ketidakjelasan dan yang membuatnya tertarik adalah segala hal yang menyenangkan, bukan masalah ekonomi, bukan masalah keterbatasan waktu, bukan soal anak sakit, bukan pula soal kerjaan yang tiada akhir. Di sini semuanya menjadi sulit, satu ketertarikan bentrok dengan yang lainnya.
I was so ready to give it up because there are too many excuses why we cant no longer be friends, but then I realize if we really want it to work, we should make it work. Like any other relationship, hard work is needed to make it survive. That's what i've been learning lately.
Menyadari bahwa segala sesuatu memang pasti akan berubah dan untuk itu saya harus beradaptasi. Topik bahasan yang berbeda coba dijembatani dengan keinginan untuk saling mendengarkan. Bentrokan jadwal dan kesibukan dimaklumi saja oleh pihak yang lebih fleksibel. Terbatasnya komunikasi mungkin bisa dibantu dengan interaksi di dunia maya. Permasalahan-permasalahan yang terjadi diminimalkan dengan segudang maaf dan rela *oh ya? still working on it for sure*.
Tidak ada yang menjamin pertemanan ini selamanya berjalan lancar, but I still think it's worth the efforts. Tonight one of my friend posted a photo of (some of) us with tagline " 11 years and counting". I felt the warmth *mungkin saya berlebihan*. Keep counting and hopefully we are gonna have friends for life in the end.
No comments:
Post a Comment