Jawaban: Kenapa saya harus mikirin mereka? Kenal aja enggak.
Anyway, saya tidak punya penilaian khusus tentang orang-orang yang bertato. Hmmpphh..kecuali mungkin mereka memiliki tato di seluruh wajahnya dan jadi mirip sosok kanibal yang di film-film, seram sih kalau itu.
Saya tidak anti terhadap orang bertato, walaupun ada pendapat-pendapat di luaran yang mengaitkan tato dan residivis. Mungkin itu cocok di tahun 60-an kali ya. Tidak tahu juga sih seperti apa tahun 60-an, sebenarnya saya cuma mau menekankan bahwa pendapat itu sudah tidak cocok di zaman sekarang.
Tapi juga bukan berarti saya mendukung orang-orang untuk punya tato. Saya belum termasuk juga kelompok orang yang mengamini bahwa tato adalah bagian dari seni. Ah, pengetahuan dan apresiasi saya tentang seni memang minim sih.
Kalau ditanya apakah saya punya keinginan untuk bikin tato permanen? Oh, tentu tidak! Alasan utamanya, saya ini lemah dalam komitmen. Lho, apa hubungannya? Jadi begini, tato itu kan melekat seumur hidup di tubuh saya, walaupun memang katanya sudah ada teknologi untuk menghilangkannya, sedangkan saya ini orangnya bosanan. Kalau 2-3 tahun kemudian saya bosan lihat gambar itu di tubuh saya gimana? Waduh, mesti mengumpulkan uang buat menghilangkannya, yang konon katanya lagi biayanya cukup mahal.
Alasan sampingannya, saya takut! Haha,,,mungkin kedengarannya menggelikan ya. Tetapi saya belum dengar cerita orang bikin tato yang rasanya seperti makan KFC. Apa maksudnya? Ya kalau makan KFC kan enak, kalau bikin tato dengar-dengar dari yang sudah berpengalaman ada sensasi rasa sakitnya. Ya oloh, sama jarum suntik aja kalau bisa saya tidak mau berurusan.
Dan ada lagi alasan-alasan lain, seperti: saya tidak kepikiran mau tato apa, mau ditaruh di mana, nanti kalau saya jadi makin gendut dan tatonya ikutan melebar berbentuk tidak jelas gimana, etc etc. Ah, sudahlah, intinya saya memang tidak ingin koq.
Walaupun begitu, kalau Anda memang berminat silakan lho. Asalkan Anda memang sudah yakin, mantap, dan sepenuh hati. Jangan alasannya cuma karena ikut-ikutan teman atau biar keren saja. Memangnya Anda yakin setelah ditato bakal jadi keren? Kalau muka tidak mendukung ya sama sajalah. Eh, maaf hanya becanda, tolong jangan dimasukkan ke hati ya.
Pesan saya sih, kalau memang mau buat tato, tunggulah sampai Anda dewasa, sampai Anda yakin, dan keputusan itu Anda buat bukan di masa-masa labil remaja *memang remaja doank ya yang labil?*. Dewasa itu kriterianya apa? Ya, susah sih memang, ada juga yang masih 15 tahun tapi pemikirannya sudah dewasa. Ada yang sudah 2x perpanjang KTP tapi kelakuan masih seperti anak SMP.
Intinya kalau buat saya sih, kalau mau buat tato jangan minta uang mama papa ya *sama halnya kalau mau beli rokok atau miras atau narkoba atau clubbing*. Kalau masih minta, tanya dulu ke mereka boleh apa enggak. Itu kan uang mereka. Kalau Anda sudah bisa cari uang sendiri dan mengerti nilai uang itu, mau dihabiskan untuk apa terserah Anda sih, asal jangan sampai masuk penjara ya.
Selamat membuat tato *atau tidak*!
No comments:
Post a Comment